Disdikpora Kulonprogo Launching Bahan Ajar SD dan SMP Berbasis Kearifan Lokal
- Istimewa
KULONPROGO, VIVA Jogja – Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kulonprogo secara resmi melaunching Bahan Ajar SD dan SMP dengan pengayaan kearifan lokal. Acara berlangsung di Aula Adikarta, Pemkab Kulonprogo, Kamis (05/02/2026), dipimpin langsung oleh Bupati Kulonprogo, Agung Setyawan, serta dihadiri Kepala Disdikpora Nur Wahyudi, Dewan Pendidikan Kulonprogo, para pengawas, kepala sekolah, dan tim penyusun bahan ajar se-Kabupaten Kulonprogo.
Kepala Disdikpora Kulonprogo, Nur Wahyudi, menjelaskan bahwa penyusunan bahan ajar ini merupakan respons terhadap Keputusan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Nomor 46 Tahun 2025. Seluruh bahan ajar di satuan pendidikan dituntut selaras dengan Capaian Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran (CPATP) yang ditetapkan secara nasional.
“Penyusunan bahan ajar ini tidak hanya memenuhi standar nasional, tetapi juga memperkaya pembelajaran dengan konteks kearifan lokal Kulonprogo,” ujarnya.
Saat ini tersedia 12 bahan ajar untuk jenjang SD dan 16 bahan ajar untuk jenjang SMP. Seluruhnya dapat diakses dalam format digital melalui laman resmi Disdikpora Kulonprogo (https://pendidikan.kulonprogokab.go.id). “Versi digital dapat diunduh dan diakses secara gratis oleh pendidik, peserta didik, maupun orang tua. Hal ini mendukung prinsip aksesibilitas, transformasi pendidikan berbasis teknologi, dan keberlanjutan lingkungan,” imbuh Nur Wahyudi.
Adapun pencetakan buku bersifat opsional berdasarkan permintaan orang tua. Pihak percetakan yang berminat wajib menjalin perjanjian kerja sama lisensi dengan Disdikpora untuk menjamin integritas konten serta kesesuaian dengan ketentuan hak kekayaan intelektual.
Dalam sambutannya, Bupati Kulonprogo Agung Setyawan menegaskan bahwa pendidikan berkualitas bukan hanya menghasilkan generasi cerdas secara intelektual, tetapi juga generasi berkarakter mulia dan mencintai tanah kelahirannya. “Bahan ajar ini menjadi jembatan yang menghubungkan pengetahuan universal dengan kearifan lokal, sehingga tercipta keseimbangan antara kemajuan global dan pelestarian budaya daerah,” katanya.