Tanah Liat, Tekad Baja: Abdul Rasyid dan Jejak Gerabah dari Panjangrejo

Abdul Rasyid pengrajin gerabah Bantul
Sumber :
  • Pemkab Bantul

VIVA Jogja – Suara gesekan tangan dengan tanah liat berpadu dengan denting tungku pembakaran menjadi aktivitas sehari-hari di pedesaan Panjangrejo, Kapanewon Pundong, Bantul, Kehidupan berputar mengikuti ritme sederhana: tanah liat dipijat, dibentuk, dikeringkan, lalu dibakar hingga menjadi gerabah yang kokoh. Dari sekian banyak perajin yang bertahan di tengah arus modernisasi, nama Abdul Rasyid muncul sebagai sosok yang kisahnya layak dituturkan.

img_title Gedung Bekas Mandala Teater Wates Menanti Revitalisasi, Kulonprogo Siapkan Hibah Aset untuk Ruang Kreatif Baru

Rasyid bukanlah putra asli Bantul. Ia lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat, dan sempat merantau ke Jakarta sebelum akhirnya menetap di Jawa setelah menikah. Tahun 1997 menjadi titik balik dalam hidupnya. Saat itu, ia mulai menekuni kerajinan gerabah dengan penuh keseriusan. Awalnya, ia bekerja pada perajin lain, belajar dari proses demi proses, mengamati detail, dan memahami karakter tanah liat. “Saya belajar otodidak, mengikuti alur orang sini. Dari ikut orang sampai akhirnya bisa berdiri sendiri,” kenangnya.

Keberanian untuk berdiri sendiri membawanya pada inovasi. Rasyid dikenal sebagai salah satu perintis teknik cetak menggunakan gypsum di wilayahnya. Jika sebelumnya perajin hanya mengandalkan alat putar (perbut) yang menghasilkan bentuk bulat, teknik cetak membuka kemungkinan desain lebih variatif. Souvenir, pot, hingga kap lampu bisa diproduksi dengan presisi dan jumlah lebih banyak. Inovasi ini perlahan mengubah pola produksi di lingkungannya, sekaligus memberi warna baru bagi tradisi gerabah Panjangrejo.

img_title Kolaborasi Kemenekraf, Indosat, dan Adobe: Membuka Jalan Kreativitas Menjadi Peluang Nyata

Kini, produk unggulannya merambah pasar internasional. Kap lampu buatannya dikirim hingga ke Australia dan Prancis melalui kerja sama dengan agen ekspor. Setiap detail diperhatikan, terutama dalam proses pembakaran. Untuk pesanan ekspor, ia membakar gerabah hingga delapan jam demi memastikan daya tahan maksimal. “Kalau untuk ekspor, matangnya harus maksimal,” tegasnya.

Menariknya, ketika pandemi COVID-19 melanda dan banyak sektor usaha terpukul, Rasyid justru merasakan lonjakan permintaan. Tren berkebun di rumah membuat pot bunga menjadi buruan. Pesanan datang silih berganti, memberi nafas segar bagi usaha yang telah dirintis lebih dari dua dekade itu. Momentum tersebut menjadi bukti bahwa gerabah tetap relevan, bahkan mampu beradaptasi dengan tren gaya hidup modern.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Selarasa Fest 2026, Festival Musik dan Budaya Merajut Kebersamaan di Yogyakarta