Pasar Digital dan Kreativitas Lokal Jadi Kunci Ekonomi Kulonprogo
- Dok Pemkab Kulonprogo
KULONPROGO, VIVA Jogja - Kulonprogo terus mengembangkan potensi lokal, terutama di sektor pangan dan perikanan, dengan menyoroti tantangan utama yang kini dihadapi: penguatan akses pasar. Wakil Bupati Kulonprogo, Ambar Purwoko, dalam kunjungannya ke Pedukuhan Nepi, Kalurahan Kranggan, Kapanewon Galur, Rabu (15/04/2026), menyampaikan bahwa masyarakat sudah menunjukkan kreativitas luar biasa dalam mengolah produk pangan lokal. Namun, persoalan yang muncul bukan lagi pada produksi atau inovasi, melainkan bagaimana produk-produk tersebut dapat terserap secara optimal di pasar, khususnya pasar lokal.
Ambar mencontohkan berbagai inovasi yang lahir dari tangan masyarakat, seperti lele asap, abon lele, hingga donat lele. Produk-produk ini membuktikan bahwa masyarakat mampu menciptakan nilai tambah dari komoditas perikanan. Meski demikian, ia menekankan bahwa serapan pasar di Kulonprogo masih perlu diperkuat agar produk unggulan tidak hanya diminati di luar daerah. “Kendala yang kami temukan justru ada pada sisi penjualan. Untuk kreasi, inovasi, bahkan pengemasan, masyarakat kita sudah sangat baik. Produk lele asap kita misalnya, pangsa pasarnya justru besar di Bantul. Ini yang perlu kita dorong agar daya beli di dalam daerah juga meningkat,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ambar juga mengapresiasi langkah Kelompok Wanita Tani (KWT) Kranggan yang mulai mengadopsi teknologi digital dalam sistem transaksi. Penggunaan QRIS di tingkat kampung menjadi bukti kesiapan masyarakat menghadapi modernisasi ekonomi. Menurutnya, penerapan teknologi ini akan membantu memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan literasi digital masyarakat.
Kegiatan bertajuk “Semangat Kartini: Petani Perempuan Berdaya dan Ketahanan Pangan Terjaga” menghadirkan tim juri lintas sektor, mulai dari Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda DIY, akademisi, Balai Penerapan Modernisasi Pertanian DIY, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Bank BPD DIY. Analis Kebijakan Ahli Madya Biro Perekonomian dan SDA Setda DIY, Yustin Dhamayanti, menjelaskan bahwa lomba ini bertujuan memotret ekosistem usaha kelompok secara menyeluruh, dari produksi hingga pemasaran. Penilaian tidak hanya berfokus pada inovasi produk, tetapi juga pada penguatan kelembagaan, administrasi keuangan, serta literasi keuangan inklusif.