Yogya Perketat Pengawasan Hewan Kurban, 265 Petugas Siaga Antemortem hingga Postmortem
- Dok Humas Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya menjaga kesehatan hewan kurban agar masyarakat dapat beribadah dengan tenang dan aman. Ratusan petugas pemeriksa dan pemantau akan diterjunkan untuk memastikan setiap hewan yang dijual maupun disembelih memenuhi standar kesehatan. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi, menyatakan bahwa seluruh proses pemotongan hewan, baik di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) maupun di luar RPH, akan berada dalam pengawasan ketat. “Semua titik pemotongan akan kami awasi, baik yang resmi di RPH maupun yang dilakukan di luar RPH karena alasan keagamaan atau darurat,” ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (12/5/2026).
Data tahun lalu mencatat 610 titik pemotongan dengan ribuan sapi, kambing, dan domba. Tahun ini diperkirakan jumlah titik menurun menjadi sekitar 570, dengan 2.229 sapi serta 5.723 kambing dan domba. Meski jumlahnya berkurang, pengawasan justru diperkuat. Sukidi menegaskan bahwa 265 petugas akan diterjunkan, lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 205 orang. Mereka terdiri dari pegawai dinas, mahasiswa, perhimpunan dokter hewan, hingga paguyuban masyarakat. Para petugas akan mulai bekerja sejak malam Iduladha, melakukan pemeriksaan antemortem untuk memastikan kondisi fisik hewan sehat, lalu dilanjutkan pemeriksaan postmortem setelah penyembelihan. “Kami periksa hati, paru-paru, dan organ vital lainnya. Jika ditemukan penyakit berbahaya seperti antraks, hewan wajib dimusnahkan,” tegasnya.
Kepala Bidang Perikanan dan Kehewanan, Sri Panggarti, mengingatkan masyarakat agar selalu meminta Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) saat membeli hewan kurban. Hewan dari luar daerah, terutama dari wilayah yang pernah ditemukan kasus antraks seperti Gunungkidul, harus dilengkapi hasil uji laboratorium yang menunjukkan negatif antraks. Selain itu, penyakit mulut dan kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD) juga menjadi perhatian utama. “Hewan yang sehat bisa dilihat dari sorot matanya yang ceria, bulu halus, dan hidung lembab. Jika hidung kering, patut dicurigai adanya demam,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa sapi sehat biasanya terlihat aktif mengunyah, tanda vitalitas yang baik.
Panggarti menuturkan bahwa sebagian besar hewan kurban di Kota Yogyakarta berasal dari dalam maupun luar DIY, termasuk Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lalu lintas hewan sudah diatur dengan ketat, dan setiap hewan dari luar daerah wajib mengantongi rekomendasi masuk DIY. Pemeriksaan antemortem dilakukan di peternak dan lokasi pemotongan, sementara pemeriksaan postmortem dilakukan setelah penyembelihan. Temuan umum biasanya berupa cacing hati, yang kadang tidak terlihat dari pemeriksaan fisik luar. “Kadang hati terlihat normal, tetapi setelah dipotong baru kelihatan kerusakannya. Itu sebabnya pemeriksaan postmortem sangat penting,” katanya.