Kewaspadaan Hantavirus di Sleman Meningkat, Dinkes Perketat Langkah Preventif

Yogyakarta mulai waspadai Hantavirus
Sumber :
  • Bing Image Creator

SLEMAN, VIVA Jogja - Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman memperketat kewaspadaan terhadap ancaman Hantavirus dan Leptospirosis di wilayah Bumi Sembada. Meski hingga kini belum ditemukan kasus positif Hantavirus, langkah preventif terus digencarkan menyusul adanya temuan warga yang sempat berstatus suspek pada awal tahun 2026. Kepala Tim Kerja Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman, dr Lina Nur Islamiyyah Yunus, menjelaskan bahwa warga tersebut kini dipastikan aman setelah hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan negatif. Ia menekankan bahwa gejala awal Hantavirus sering kali mirip dengan infeksi virus lain, namun biasanya disertai demam tinggi.

img_title Masuki Musim Penghujan, Dinkes Kota Yogyakarta Imbau Warga Waspadai DBD, Leptospirosis, dan Diare

Sumber penularan Hantavirus berasal dari tikus, sama halnya dengan Leptospirosis. Karena itu, Dinkes Sleman melakukan survei roden dengan memasang perangkap tikus di rumah warga, pekarangan, hingga area sungai, terutama di wilayah rawan seperti Kapanewon Depok. Sampel tanah dan tikus yang diuji sejauh ini menunjukkan hasil negatif, namun kewaspadaan tetap dijaga mengingat kasus Leptospirosis di Sleman sepanjang 2026 cukup signifikan. Berdasarkan data, terdapat 59 kasus positif Leptospirosis, 52 suspek, dan satu kasus meninggal dunia di wilayah Gamping. Pola penularan penyakit ini pun bergeser, tidak lagi dominan di area persawahan, melainkan merambah ke kawasan permukiman padat penduduk.

Sekretaris Dinkes Sleman, Esti Kurniasih, mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan gejala demam, terutama jika disertai nyeri otot. Ia menegaskan bahwa penanganan medis terhadap Leptospirosis maupun Hantavirus harus dilakukan secepat mungkin karena keduanya bisa menyebabkan komplikasi serius seperti gagal ginjal yang mengancam nyawa. Esti menambahkan bahwa ada warga Sleman yang sempat dicurigai suspek Hantavirus setelah memiliki riwayat kontak dengan tikus, namun hasil pemeriksaan akhirnya negatif.

img_title Sleman Dalane Padang: Mewujudkan Terang yang Merata untuk Keselamatan dan Kesejahteraan Warga

Awal tahun 2026, seorang warga Sleman menunjukkan gejala demam tinggi dan nyeri otot setelah diketahui memiliki riwayat kontak dengan tikus. Kondisi ini menimbulkan kecurigaan adanya infeksi Hantavirus. Dinkes Sleman segera melakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan status kesehatan warga tersebut. Hasilnya, warga dinyatakan negatif Hantavirus, sehingga status suspek dicabut.

Meski demikian, kasus ini menjadi pemicu bagi Dinkes Sleman untuk meningkatkan kewaspadaan. Pada pertengahan Mei 2026, Dinkes mulai melakukan survei roden dengan memasang perangkap tikus di sejumlah lokasi rawan. Pemeriksaan sampel tanah dan tikus dilakukan secara intensif, dan hasilnya menunjukkan tidak ada indikasi Hantavirus. Namun, di saat yang sama, kasus Leptospirosis justru meningkat dengan puluhan warga terkonfirmasi positif.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Sleman Dalane Alus: Membangun Konektivitas, Menggerakkan Perekonomian