Malioboro Menuju Zona Rendah Emisi, Becak Listrik Gantikan Bentor
- Istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Transformasi wajah Malioboro sebagai ikon wisata Yogyakarta memasuki babak baru dengan kebijakan Pemerintah Kota Jogja yang menargetkan kawasan tersebut bebas dari becak motor berbahan bakar fosil pada 2028. Langkah ini bukan sekadar penataan transportasi, melainkan bagian dari visi besar menjadikan Sumbu Filosofi sebagai kawasan rendah emisi yang ramah lingkungan sekaligus memperkuat citra Jogja sebagai kota budaya yang beradaptasi dengan tuntutan zaman.
Walikota Yogya, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa bentor yang selama ini menjadi salah satu moda transportasi alternatif akan digantikan secara bertahap dengan becak listrik. Hingga awal Juni 2026, tercatat 260 unit becak listrik sudah beroperasi di berbagai titik kota. Pemerintah menargetkan jumlah tersebut meningkat hingga 900 unit dalam dua tahun ke depan. Untuk mempercepat pencapaian, Pemkot berencana mengalokasikan anggaran melalui APBD Perubahan 2026 dan APBD Murni 2027 guna membeli 500 unit sekaligus. Hasto menekankan bahwa ketergantungan pada bantuan pihak ketiga atau program CSR akan memperlambat proses, sehingga dukungan anggaran pemerintah menjadi krusial.
Kebijakan ini tidak hanya menyentuh aspek transportasi, tetapi juga menyasar pengurangan emisi di kawasan wisata yang padat pengunjung. Setiap pengemudi yang menerima becak listrik diwajibkan menyerahkan bentor lama untuk dimusnahkan. Prosedur ini dilakukan agar tidak ada bentor baru yang kembali beroperasi dan mengganggu konsistensi program. Momentum simbolis terlihat ketika Hasto memimpin penghancuran bentor menggunakan palu di UPT Pengujian Kendaraan Bermotor Dishub Kota Jogja, menandai komitmen serius pemerintah terhadap perubahan.
Dukungan kebijakan juga datang dari tingkat provinsi. Kepala Dishub DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menegaskan bahwa mulai akhir November 2026, bentor maupun bajaj berbahan bakar minyak tidak lagi diperkenankan melintas di Malioboro. Sebagai gantinya, kawasan tersebut hanya akan dilalui kendaraan non-BBM, transportasi darurat, serta armada resmi seperti Trans Jogja yang secara bertahap akan diperkuat dengan bus listrik. Dishub DIY bahkan merencanakan pemasangan portal di sejumlah jalan sirip Malioboro untuk mengatur lalu lintas sekaligus memastikan penerapan zona rendah emisi berjalan optimal.
Di tingkat kota, pengawasan distribusi becak listrik dilakukan melalui sistem koperasi. Kepala Dishub Kota Jogja, Agus Arif Nugroho, menjelaskan bahwa bantuan becak listrik hanya diberikan kepada pengemudi yang terdaftar. Dari sekitar 780 armada yang beroperasi di kawasan Teteg hingga Titik Nol Kilometer, sekitar 60 persen pengemudi ber-KTP Kota Jogja, sementara sisanya berasal dari kabupaten sekitar seperti Bantul, Sleman, Kulonprogo, dan Gunungkidul. Pendataan ini penting agar jumlah armada tetap terkendali dan tidak menimbulkan masalah baru.