Gerobak Listrik DIY Teguhkan Komitmen Aksi hadapi dampak Krisis Iklim

Gerobak listrik sebagai peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Sumber :
  • Dok Humas Pemda DIY

YOGYAKARTA, VIVA Jogja -  Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2026 menjadi momentum penting untuk menegaskan komitmen daerah dalam menghadapi krisis iklim. Acara puncak yang berlangsung di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis (18/06/2026), mengangkat tema “Act Now for Climate, Saatnya Bekerja untuk Iklim” dan menekankan bahwa kerja iklim tidak boleh berhenti pada wacana, melainkan harus diwujudkan dalam aksi nyata yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

img_title Wagub DIY dan Kapolda Baru Sepakat Selaraskan Penanganan Dinamika Sosial

Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X, yang membacakan sambutan Gubernur DIY, menyoroti fenomena Triple Planetary Crisis yang kini dihadapi dunia, yakni perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan degradasi keanekaragaman hayati. Ketiga krisis tersebut saling berkaitan dan berpotensi mengancam daya dukung alam, kualitas hidup masyarakat, serta keberlanjutan pembangunan. Menurutnya, kerja iklim tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan pemerintah, komunitas, hingga individu.

Komitmen DIY sejalan dengan langkah nasional dalam menurunkan emisi gas rumah kaca melalui target Nationally Determined Contribution (NDC) sesuai Persetujuan Paris. Di tingkat daerah, komitmen tersebut diterjemahkan dalam pembangunan rendah karbon yang telah masuk dalam Peraturan Daerah DIY Nomor 2 Tahun 2024 tentang RPJMD DIY 2022–2027. Kebijakan ini mencakup sektor kehutanan, pertanian, pesisir dan kelautan, energi, transportasi, pengelolaan limbah, hingga persampahan.

img_title 15 Tahun KUSTOMFEST: “High Octane” Pacu Kreativitas Builder Kustom Indonesia

Sri Paduka menekankan bahwa tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim” adalah ajakan untuk bergerak dari kesadaran menuju tindakan nyata. Upaya menjaga lingkungan dapat dimulai dari lingkup terkecil, seperti keluarga, kampung, sekolah, kantor, maupun komunitas. Langkah sederhana seperti mengurangi sampah, menanam pohon, menghemat energi, dan membudayakan gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) diyakini mampu memberi dampak besar jika dilakukan secara konsisten. Filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, yang berarti kewajiban melindungi dan memelihara kelestarian alam, menjadi landasan moral bagi masyarakat Jogja untuk menjadikan kepedulian sebagai tindakan nyata.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Kusno Wibowo, menambahkan bahwa peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan panggilan untuk bertindak lebih besar dalam menyelamatkan bumi. Sejak awal Juni, berbagai kegiatan telah digelar, mulai dari pemutaran film edukasi lingkungan Menolak Punah, aksi bersih lingkungan di seluruh perangkat daerah, hingga penanaman mangrove di pesisir Trisik, Kulonprogo.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Kreativitas Daur Ulang Warnai Karnaval HUT ke-270 Kota Yogyakarta