UGM Bangun Ekosistem AI Multidisiplin untuk Pendidikan dan Riset Masa Depan
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Artificial Intelligence (AI) kini menjadi salah satu teknologi yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan tinggi. Universitas Gadjah Mada (UGM) melihat peluang besar dari perkembangan ini dengan memperkuat ekosistem pembelajaran dan riset berbasis AI melalui kolaborasi strategis, pengembangan program, serta keterlibatan lintas disiplin ilmu. Langkah ini tidak hanya ditujukan untuk mendukung inovasi akademik, tetapi juga menjawab kebutuhan transformasi digital yang semakin mendesak di era modern.
Kepala Biro Transformasi Digital UGM, Dr Mardhani Riasetiawan, menjelaskan bahwa pengembangan ekosistem AI menjadi strategi penting bagi kampus dalam memperkuat kapasitas riset sekaligus menciptakan ruang pembelajaran yang adaptif. Ia menyoroti pencapaian besar UGM pada tahun lalu dengan peluncuran UGM AI Center of Excellence, yang kemudian diikuti dengan kolaborasi bersama Indosat Ooredoo Hutchison. Kerja sama ini membuka jalan bagi UGM untuk bergabung dalam jaringan NVIDIA AI Technology Center (NVAITC), sebuah jaringan global yang mendukung riset AI dengan teknologi komputasi mutakhir. “Persoalan terbesar dalam pengembangan AI selama ini memang terletak pada keterbatasan sumber daya komputasi. Melalui kerja sama ini, para peneliti UGM dapat memanfaatkan kapasitas komputasi dalam skala yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya,” ungkap Mardhani dalam seminar bertajuk Riset dengan Artificial Intelligence (AI).
Selain memperkuat kolaborasi dengan mitra industri, UGM juga menyiapkan program internal untuk memperluas ekosistem AI di lingkungan kampus. Salah satunya adalah Artificial Intelligence Talent Factory (AITF), sebuah program pengembangan selama tiga tahun yang bertujuan mencetak talenta unggul di bidang AI. UGM juga membentuk Faculty Member UGM AI sebagai jejaring akademik lintas fakultas. Pendekatan multidisiplin ini menjadi kekuatan utama UGM, karena riset AI tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga melibatkan ilmu sosial, humaniora, hukum, dan berbagai bidang lain. “Kami ingin membangun ekosistem ini secara bersama-sama. Karena pada akhirnya, tidak ada keberhasilan besar yang dapat dicapai sendirian,” tegas Mardhani.
Dalam sesi seminar, sejumlah dosen UGM memaparkan bagaimana AI telah membuka peluang baru dalam penelitian di berbagai bidang. Dr. Rimawati dari Fakultas Hukum UGM mencontohkan pemanfaatan AI dalam penelitian hukum, khususnya pada tahap penelusuran regulasi, putusan pengadilan, hingga penyusunan matriks analisis. Menurutnya, pekerjaan yang sebelumnya memakan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan jam. “Dengan bantuan AI, proses penelusuran menjadi jauh lebih efisien. Dahulu pekerjaan tersebut dapat memakan waktu hingga satu bulan, sekarang proses yang sama dapat diselesaikan hanya dalam beberapa jam,” jelasnya. Namun ia menekankan bahwa AI hanya berfungsi sebagai alat bantu. Analisis, penafsiran norma, dan justifikasi hukum tetap menjadi tanggung jawab peneliti, sehingga hasil yang diberikan AI harus diverifikasi dengan sumber hukum yang sah.