UGM dan Australia-Indonesia Centre Perkuat Kerja Sama Riset dan Beasiswa Doktor
- Dok Humas UGM
Boyd Whalan memaparkan gagasan pengembangan ekosistem pendidikan doktor Indonesia-Australia yang lebih terintegrasi melalui pembentukan model kolaborasi baru. Model tersebut dirancang memiliki tiga pilar utama, yakni program persiapan bagi calon mahasiswa doktor, jalur pendidikan doktor bersama, serta riset yang berfokus pada prioritas nasional Indonesia. Menurutnya, pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan calon mahasiswa, memperluas akses terhadap pendanaan beasiswa, sekaligus memperkuat dampak penelitian melalui kolaborasi antaruniversitas. Ia menekankan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi calon mahasiswa doktor adalah belum memenuhi syarat untuk memperoleh beasiswa, sehingga diperlukan program persiapan sebelum proses pendaftaran.
Konsep tersebut mendapat respons positif dalam diskusi yang melibatkan sekitar 20 perguruan tinggi Indonesia dan Australia pada Juli lalu. Whalan menilai berbagai universitas telah memiliki beragam bentuk kerja sama, namun diperlukan koordinasi yang lebih sistematis agar skema pendanaan, mobilitas akademik, dan penyelenggaraan program doktor bersama dapat saling terintegrasi. Ia menegaskan bahwa program ini bukan untuk menggantikan inisiatif yang sudah ada, melainkan memperkuat dan mengoordinasikan berbagai upaya yang telah berjalan.
Sebagai tindak lanjut, UGM akan menggelar serangkaian koordinasi antarunit untuk membahas masukan terkait desain program. Hasil pembahasan tersebut akan menjadi dasar perencanaan penyusunan model kolaborasi, mekanisme pendanaan, serta skema penyelenggaraan program doktor bagi AIC. Sejalan dengan itu, AIC juga akan berkoordinasi dengan sejumlah universitas di Australia untuk memperkuat perencanaan.