Dosen UGM dan Warga Sangurejo Ubah Kampung Kumuh Jadi ProKlim Lestari
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, terpilih sebagai salah satu dari 32 nominasi Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari 2026 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup. Predikat ini bukanlah capaian instan, melainkan hasil perjalanan panjang masyarakat bersama perguruan tinggi, pemerintah, dan komunitas dalam mengubah wajah kampung yang dulunya dikenal kumuh menjadi bersih, lestari, dan berdaya.
Salah satu sosok yang berperan besar dalam transformasi Sangurejo adalah dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir Atus Syahbudin. Atus terlibat langsung dalam pendampingan program ProKlim di Sangurejo dengan fokus pada penguatan kolaborasi akademik, penelitian, pemberdayaan masyarakat, pembekalan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), serta praktikum kurator keanekaragaman hayati. Menurutnya, keberhasilan Sangurejo menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan dapat berkembang bila didukung oleh partisipasi lintas sektor. “Ini bukan pekerjaan satu orang. Energi dan semangat dari berbagai pihak perlu disatukan agar gerakan lingkungan di Sangurejo semakin kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pendekatan yang dilakukan tidak hanya sebatas teknis, melainkan juga sosial dan edukatif. Mahasiswa KKN yang dibimbing Atus tidak sekadar menjalankan pengabdian, tetapi juga belajar mengidentifikasi potensi lokal, mendokumentasikan praktik pengelolaan lingkungan, serta mendukung kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Hal ini mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman masyarakat, sehingga pengelolaan sampah, konservasi tanah dan air, penghijauan, hingga pengembangan ekonomi berbasis lingkungan menjadi bagian dari proses pembelajaran bersama.
Atus menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam ProKlim menjadi jembatan antara kampus dan masyarakat. Pengetahuan yang dikembangkan di perguruan tinggi dapat memberikan manfaat langsung, sementara masyarakat memperoleh dukungan dokumentasi dan inovasi yang memperkuat program lingkungan. “Mahasiswa dapat belajar dari masyarakat, sementara masyarakat memperoleh pengetahuan yang memperkuat praktik lingkungan yang sudah berjalan,” jelasnya.
Kiprah Sangurejo sebagai ProKlim juga diperluas melalui jejaring mitra binaan. Berdasarkan Surat Keputusan DLH Kabupaten Sleman, Sangurejo memiliki 12 lokasi mitra binaan yang tersebar di berbagai padukuhan. Jejaring ini menjadi bukti bahwa praktik adaptasi perubahan iklim di Sangurejo mampu direplikasi ke wilayah lain dengan melibatkan berbagai unsur. Atus menilai jejaring tersebut sebagai modal sosial penting untuk menjaga keberlanjutan ProKlim.