Mahasiswa UGM Persembahkan Medali Perunggu di Kompetisi Matematika Internasional Bulgaria

Mahasiswa Departemen Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM berhasil membawa pulang medali perunggu
Sumber :
  • Dok Humas UGM

SLEMAN, VIVA Jogja  - Universitas Gadjah Mada kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional melalui dua mahasiswa Departemen Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Muhammad Hanif berhasil membawa pulang medali perunggu pada ajang International Mathematics Competition (IMC) 2026 di Blagoevgrad, Bulgaria, sementara rekannya, Fajar Arif Shodiqin, meraih penghargaan Honorable Mention. Capaian ini sekaligus mengharumkan nama Indonesia di tengah persaingan ketat yang melibatkan 447 mahasiswa dari 48 negara.

img_title Tim Arjuna UGM Masuk Top 10 Formula SAE Japan 2026, Bukti Konsistensi Inovasi Mahasiswa Indonesia

Indonesia sendiri mengirimkan lima wakil dalam kompetisi bergengsi tersebut, dengan dua di antaranya berasal dari UGM. Dari seluruh delegasi, dua mahasiswa berhasil meraih medali perunggu dan tiga lainnya memperoleh Honorable Mention. Bagi Hanif dan Fajar, pencapaian ini bukanlah hal yang instan, melainkan hasil dari perjalanan panjang dalam menekuni kompetisi matematika. Hanif sebelumnya pernah meraih medali emas di Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ONMIPA) 2025, sedangkan Fajar menyabet medali emas di ONMIPA 2026. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga sebelum keduanya lolos seleksi menuju IMC.

Hanif mengungkapkan bahwa persiapan menuju IMC sempat diwarnai ketidakpastian. Ia harus tetap konsisten belajar meski belum ada kepastian apakah Indonesia akan berangkat ke Bulgaria. Informasi mengenai seleksi baru diterima sekitar tiga hari sebelum pelaksanaan, sehingga waktu persiapan relatif singkat. Setelah dinyatakan lolos, ia bersama peserta lain menjalani pembinaan intensif secara daring dan luring selama dua pekan, termasuk di Departemen Matematika FMIPA UGM. “Tantangannya tetap konsisten belajar, karena saat itu belum ada kejelasan apakah Indonesia berangkat atau tidak,” ujarnya.

img_title Teknologi KKN UGM Jadikan Air Lereng Merbabu Layak Minum, Harapan Baru Warga Dusun Deles

Perbedaan mencolok yang dirasakan keduanya saat mengikuti IMC adalah penggunaan bahasa Inggris dalam soal. Hanif dan Fajar mengaku belum terbiasa mengerjakan soal dengan bahasa asing, sehingga perlu beradaptasi. Selain itu, tingkat kesulitan materi juga lebih tinggi dibandingkan ONMIPA. Hanif menuturkan bahwa hal ini menjadi tantangan tersendiri, sementara Fajar menambahkan bahwa komunikasi dengan pengawas maupun peserta dari negara lain juga membutuhkan penyesuaian. “Tidak terbiasa ngobrol dengan bahasa Inggris, jadi agak canggung,” kata Fajar.

Ajang IMC 2026 menjadi pengalaman pertama mereka mengikuti kompetisi matematika di luar negeri. Berada di lingkungan baru dengan peserta dari berbagai negara membuat suasana kompetisi terasa lebih menekan dibandingkan kompetisi nasional. Hanif mengaku sempat merasa kurang percaya diri, sementara Fajar merasakan tekanan serupa. Meski demikian, keduanya tetap berusaha tampil maksimal dan akhirnya berhasil membawa pulang penghargaan.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title UGM Dorong Gerakan Pemanenan Air Hujan untuk Hadapi Kekeringan Akibat El Nino