Mendekatkan Harapan, Merawat yang Terlupakan
- VIVA Jogja/dokpri
Kisah Para Dokter Spesialis Menjalankan Misi Kemanusiaan dari Desa ke Desa
Semarang, VIVA Jogja - “Sudah berapa malam Ibu tidak bisa tidur?”
“Tiga minggu ini, Dok… mata merem tapi kepala nggak pernah benar-benar istirahat,” jawab perempuan setengah baya itu, dengan suara bergetar.
“Apa perasaan yang dominan muncul akhir-akhir ini. Ada sesuatu yang terjadikah, sehingga pikiran serasa tidak bisa istirahat?”
Percakapan sederhana itu terjadi saat Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) di ajang Car Free Day (CFD) kawasan Simpang Lima, Kota Semarang.
“Ternyata, gejala tidak bisa tidurnya karena si ibu, baru saja sebulan lalu ditinggal mati suami tercinta,” ungkap dr Anita Virgiyanti, Sp.KJ, dengan mata berkaca-kaca.
Ada rasa haru, sekaligus bangga yang dirasakan psikiater tersebut, saat menjumpai pasien yang menunggu dengan rasa cemas bercampur lega. Mereka akhirnya bisa bertemu dokter spesialis tanpa harus menempuh perjalanan berjam-jam.
“Lewat program ini, warga di pelosok yang sebelumnya kesulitan mendapatkan layanan kini akhirnya bisa bertemu langsung dengan dokter spesialis. Inisiatif ini tidak sekadar menghadirkan pelayanan lebih dekat, tetapi juga tak dikenakan biaya,” ujar dokter spesialis kejiwaan, yang sehari-hari bertugas di RS Mata Daerah Soepardjo Roestam Semarang ini, kepada VIVA Jogja, Senin (17/11/2025).
Lebih dari sepuluh kali, dr Anita terlibat dalam Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) yang digagas Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin Maimoen.
Dari pengalaman itu, dia telah melihat langsung bagaimana layanan kesehatan jiwa diterima di berbagai wilayah di Jawa Tengah. Setiap daerah, katanya, menghadirkan kesan tersendiri—baik dalam hal tantangan, kebutuhan masyarakat, maupun respons yang diberikan. Namun, ada satu pengalaman yang paling membekas di ingatannya.
“Saya pernah turun Speling, tempat sudah disiapkan, privat, nyaman, tapi tidak ada satu pun yang datang untuk konsultasi,” ujarnya.
Padahal, Kepala Puskesmas setempat menyampaikan bahwa kasus gangguan jiwa di wilayah itu cukup tinggi. “Ini menunjukkan stigma masih kuat. Banyak orang takut terlihat datang ke layanan jiwa, karena dianggap negatif.”
Di wilayah-wilayah yang ia kunjungi, dr. Anita paling sering menemui keluhan kecemasan, depresi, dan gangguan tidur. Banyak pasien datang dengan rasa cemas berlebihan, kesedihan berkepanjangan, atau kesulitan tidur yang sudah berlangsung lama.
Menurutnya, hal ini menunjukkan kebutuhan besar masyarakat akan ruang aman untuk bercerita. “Kadang konsultasi bisa sampai satu jam. Mereka benar-benar butuh tempat untuk meluapkan perasaannya, karena tidak punya ruang itu di lingkungan mereka,” katanya.
Antusiasme Masyarakat
Meskipun stigma masih muncul di beberapa daerah, dr. Anita melihat perubahan positif. Masyarakat mulai lebih terbuka terhadap layanan kesehatan jiwa. Banyak yang baru menyadari bahwa gangguan psikologis dapat ditangani di puskesmas dan bahkan dijamin oleh BPJS Kesehatan.
dr Anita (no 2 dari kiri) saat program speling
- VIVA Jogja/dokpri
“Puskesmas di Jawa Tengah sudah punya layanan jiwa. Jadi gangguan ringan bisa ditangani di tingkat dasar, dan jika perlu dirujuk, kami berikan surat pengantar yang bisa dipakai BPJS,” jelasnya.
Kendati tidak mengalami keterbatasan fasilitas medis secara signifikan, dr. Anita menilai ketersediaan ruang konsultasi privat sangat penting. Ruang yang terlalu ramai atau kurang kondusif dapat mengganggu proses konsultasi yang membutuhkan keheningan dan privasi.
“Kadang yang dibutuhkan hanya ruang yang tenang dan tisu, karena banyak pasien menangis. Itu saja sudah cukup membantu,” ujarnya.
Dalam program Speling, dr. Anita tidak memberikan obat karena tahap awal lebih difokuskan pada psikoedukasi, pendampingan emosional, dan identifikasi masalah. Setelah itu, pasien yang perlu penanganan lebih lanjut dirujuk ke layanan spesialistik.
“Banyak yang sudah terbantu hanya dengan didengarkan, dijelaskan, dan diarahkan,” tuturnya.
dr Anita (tengah) di panti Waluyotomo Jepara
- VIVA Jogja/dokpri
Salah satu pengalaman paling menyentuh terjadi ketika seorang pasien gangguan jiwa datang bersama caregiver yang tak lain adalah orang tuanya.
Setelah wawancara, dr. Anita menemukan bahwa sang pendamping ternyata mengalami ketidakstabilan emosional yang cukup berat.
“Dia terlalu fokus merawat anaknya sampai tidak sadar kalau dirinya juga membutuhkan layanan kesehatan jiwa,” ungkapnya. “Kasus seperti ini menunjukkan bahwa saat satu anggota keluarga terdampak, semua ikut merasakan beban psikologisnya.”
Membuka Ruang Mendengar
Menurut dr. Anita, Speling sejalan dengan program pemerintah terkait Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Melalui pelatihan ini, tenaga kesehatan hingga masyarakat awam diajarkan cara melihat tanda-tanda krisis psikologis, mendengar secara empatik, dan menghubungkan pasien ke fasilitas kesehatan.
“Artinya, tidak hanya psikiater yang bisa mendengar. Masyarakat pun bisa menjadi penolong pertama bagi sesamanya,” kata dr. Anita.
Ia berharap Speling terus dilanjutkan, terutama untuk menjangkau kasus-kasus yang selama ini tidak tersentuh. Banyak pasien yang sebenarnya membutuhkan layanan jiwa tetapi tidak mampu atau tidak punya akses untuk pergi ke spesialis karena jarak dan biaya.
“Speling menjadi jembatan, mendekatkan layanan ke masyarakat, dan itu sangat berarti bagi mereka,” pungkasnya. Dengan semakin terbukanya pemahaman masyarakat tentang kesehatan jiwa, dr. Anita percaya bahwa Speling dapat menjadi katalis penting dalam mengurangi stigma, memperluas akses layanan, dan memastikan bahwa setiap orang memiliki tempat aman untuk pulih dan bercerita.
Stigma TB dan Minimnya Fasilitas
Pengalaman menarik juga dirasakan oleh dr. Prima Karita Sari, Sp.P. Sejawat dr Anita di di Rumah Sakit Mata Daerah Soepardjo Roestam Semarang ini, mengaku telah lima kali mengikuti penugasan Speling, khususnya untuk penanganan penyakit paru dan tuberkulosis (TB).
dr Prima Karita Sari, Sp.P saat periksa pasien
- VIVA Jogja/dokpri
Dalam setiap penugasan, dokter spesialis Paru ini melihat secara langsung bagaimana kondisi epidemiologi TB beragam antarwilayah.
“Daerah yang letaknya jauh dari pusat kota relatif lebih banyak ditemukan kasus terduga TB. Kasus tersebut kemudian kami teruskan ke puskesmas setempat untuk pemeriksaan diagnostik,” ujarnya.
Menurutnya, perburuan kasus TB di daerah terpencil masih dibayangi stigma dan minimnya fasilitas penunjang. Banyak penderita enggan minum obat atau meneruskan pengobatan karena takut dijauhi. “Ini tantangan terbesar. Kami harus terus memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat,” katanya.
Keterbatasan fasilitas diagnostik seperti rontgen dan Tes Cepat Molekular (TCM) juga memperlambat penemuan kasus. Kehadiran TB XPRESS, inovasi skrining dengan X-ray portable, dinilai membantu mempercepat penemuan kasus aktif.
“Program ini, jika diintegrasikan dengan Speling Melesat, membuat hasil rontgen bisa langsung ditindaklanjuti oleh dokter spesialis,” tambahnya.
Dalam beberapa penugasan, dr. Prima kerap menemukan kasus TB yang sudah terlambat terdiagnosis. Kebanyakan disebabkan oleh keengganan pasien dengan gejala TB untuk segera memeriksakan diri.
“Kesadaran ini yang masih harus dikuatkan,” katanya.
Ia juga menyoroti ketimpangan fasilitas antarwilayah. Di kota besar, akses X-ray, GeneXpert, dan pemeriksaan mikroskopis relatif mudah dijangkau.
Namun di daerah terpencil, alat-alat tersebut masih sangat terbatas. Selama program Speling, dr. Prima menerapkan strategi deteksi dini secara aktif dan masif, terutama pada kelompok berisiko tinggi. Ia juga memberikan saran pengobatan serta konseling kepada pasien maupun keluarga.
“Dukungan emosional sama pentingnya dengan pengobatan,” tegasnya.
dr Prima Karita Sari, Sp.P (no 7 dari kiri) saat speling di Tegal
- VIVA Jogja/dokpri
Selain kasus TB biasa, ia juga menemukan sejumlah pasien TB Resisten Obat (TB RO). Pasien yang teridentifikasi langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan TB RO. Namun tidak semua bersedia menjalani pengobatan. “Ini kendala terbesar dalam menangani TB RO,” kata dr. Prima.
Ia menilai kolaborasi dengan puskesmas, kader kesehatan, dan relawan lokal sangat krusial. Kader menjadi pengawas minum obat, pemberi motivasi, sekaligus pendukung moral bagi pasien.
“Mereka membantu memastikan pasien menyelesaikan pengobatannya. Tanpa pendampingan ini, risiko putus obat sangat besar,” jelasnya.
Komitmen Politik
Salah satu pengalaman paling membekas baginya adalah ketika seorang kader puskesmas bercerita tentang perjuangannya mendampingi pasien TB setelah adiknya sendiri tertular TB RO dari rekan kerja. Kisah itu menunjukkan betapa kuatnya peran kader sebagai garda depan dalam memutus rantai penularan TB.
“Saya selalu berupaya menjelaskan TB dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami masyarakat. Ini penting agar mereka tidak takut dan mau memeriksakan diri,” ungkap dr. Prima.
Berdasarkan pengalamannya, ia menilai pemerintah perlu memperkuat komitmen politik dan pendekatan multisektor dalam pemberantasan TB.
Peningkatan akses diagnostik, terutama penambahan X-ray portable di daerah terpencil, dianggap menjadi langkah mendesak. Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan pengetahuan masyarakat terkait cara penularan, pencegahan, dan urgensi pengobatan tuntas.
“Gerakan TOSS TB (Temukan TB, Obati Sampai Sembuh) harus terus dikampanyekan untuk menghilangkan stigma dan meningkatkan partisipasi masyarakat,” pungkasnya.
Dengan penugasan yang terus berlanjut, dr. Prima berharap Speling dapat memperkuat layanan kesehatan hingga ke wilayah paling sulit dijangkau, memastikan pasien TB mendapatkan hak yang sama atas layanan dan pemulihan.
Apresiasi Pemerintah Pusat
Program dokter spesialis keliling (Speling) di Jawa Tengah mendapat apreasiasi tinggi dari Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus
- VIVA Jogja/Humas Pemprov Jateng
Saat meninjau Program Speling dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di dua lokasi, yaitu Desa Seboto, Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali, dan Kelurahan Blotongan, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Rabu, 5 November 2025, Benjamin menilai Speling cukup efektif untuk melakukan skrining (pelacakan) terhadap penderita tuberkulosis (TB).
"Ini sangat luar biasa, sudah saya cek ada foto rontgen juga di sini," kata Benjamin terkait efektivitas Speling untuk skrining TB.
Benjamin menjelaskan, Speling dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) mampu mendeteksi berbagai penyakit yang diderita oleh warga, mulai dari kecing manis hingga darah tinggi. Bahkan, melalui foto rontgen dari alat portable x-ray, dokter spesialis mampu mendeteksi penyakit infeksi, tumor, paru-paru, atau penyakit lainnya.
"Kalau program ini bisa dilakukan di seluruh Indonesia, maka masyarakat Indonesia jauh lebih baik dari hari ini. Itu yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto melalui cek kesehatan gratis," jelasnya.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi mengatakan, penanganan tuberkulosis menjadi salah satu prioritas nasional.
Di Jawa Tengah, Dinas Kesehatan telah meluncurkan program TB Express yang dalam praktiknya terintegrasi dengan kegiatan Speling dan CKG.Kegiatan tersebut juga melibatkan seluruh dinas kesehatan di kabupaten/kota.
Gubernur Ahmad Luthfi bersama warga antre speling
- VIVA Jogja/Humas Pemprov Jateng
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, estimasi kasus tuberkulosis di Jawa Tengah tahun 2025 adalah 107.488 kasus. Per 4 November 2025 sudah ditemukan 73.028 kasus atau 68% dari estimasi. Khusus layanan pemeriksaan tuberkulosis terdapat 5.503.929 orang yang diperiksa. Meliputi pemeriksaan dahak menggunakan Tes Cepat Molekuler (sputum TCM) sebanyak 94.499 orang, dengan rincian hasil pemeriksaan negatif 86.573 orang, pemeriksaan gagal 5.051 orang, TB sensitive obat (SO) 2.605 orang, dan TB resisten obat (RO) 260 orang.
Untuk pelayanan kesehatan jiwa, berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah per 10 Oktober 2025, telah dilakukan skrining terhadap 5.918.363 orang. Skrining ini dilakukan melalui Speling, CKG, dan sejumlah program lainnya termasuk pemeriksaan kesehatan di sekolah-sekolah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 32.735 orang atau 0,55% menunjukkan indikasi gejala depresi, kemudian 28.846 orang atau 0,49% menunjukkan indikasi gejala kecemasan.
Program CKG tidak hanya menyasar masyarakat di pedesaan tetapi juga anak-anak usia 7 tahun ke atas di sekolah-sekolah. Hal ini untuk mengefektifkan deteksi dini masalah kesehatan yang dihadapi oleh anak-anak sehingga dapat dilakukan langkah tindak lanjut dengan cepat.
Di samping itu, Speling juga sudah dilakukan di instansi pendidikan. Misalnya di Universitas Diponegoro dan beberapa perguruan tinggi lain yang sudah bekerja sama dengan Pemprov Jateng.
Di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) kita sudah dilakukan di hampir seluruh sekolah yang ada di bawah kewenangan pemerintah provinsi.
"Speling dan CKG di Jawa Tengah sudah 10 juta lebih masyarakat terlayani. Ini bentuk kehadiran negara untuk memberikan pelayanan kesehatan paripurna sampai tingkat desa," kata Gubernur Ahmad Luthfi beberapa waktu lalu.
Terdapat 13 unit mobil layanan kesehatan terdiri atas 7 unit di RSUD Prov Jateng, 1 Unit di Dinkes Prov Jateng, 1 Unit milik Pemkab Cilacap, 1 Unit milik Pemkab Rembang, 1 Unit milik Pemkab Blora, 1 Unit milik Pemkab Wonogiri, dan 1 Unit di RS Mutiara Bunda Kab Brebes guna mendukung Speling dan CKG di Jawa Tengah.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperluas jangkauan layanan kesehatan melalui Program Speling (Spesialis Keliling). Hingga 5 November 2025, program inovatif yang menghadirkan dokter spesialis langsung ke desa-desa ini telah menjangkau 722 desa di 35 kabupaten/kota, dengan total 73.813 sasaran penerima manfaat.
dr Yunita Dyah Suminar bersama gubernur dan wamenkes
- VIVA Jogja/Humas Pemprov Jateng
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dr. Yunita Dyah Suminar, M.Kes, didampingi Kabid Pelayanan Kesehatan Dinkes Jateng, dr Elhamangto Zuhdan menjelaskan bahwa penentuan lokasi pelaksanaan Speling didasarkan pada persentase penerima bantuan sosial (bansos) di wilayah tersebut.
“Untuk tahap awal, Speling menyasar 70 desa di sekitar RSUD dan RSJD milik Pemprov Jateng. Selanjutnya, target jangka menengahnya mencapai 1.278 desa di 35 kabupaten/kota, dan dalam jangka panjang akan menjangkau seluruh desa di Jawa Tengah,” jelas dr Yunita, kepada VIVA Jogja.
Tenaga Medis Sesuai Kebutuhan Desa
Jumlah tenaga medis yang diturunkan menyesuaikan jenis pelayanan dan kebutuhan masyarakat. Program ini melibatkan tim CKG (Cegah Kurangi Gejala) dari puskesmas sekitar dan dokter spesialis keliling dari RS provinsi.
“Yang paling banyak dibutuhkan biasanya layanan penemuan kasus TB melalui skrining aktif (ACF TB), pemeriksaan kehamilan risiko tinggi (ANC bumil risti), serta deteksi penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi dan diabetes,” terang Yunita.
Selain itu, masyarakat mendapatkan layanan kesehatan gratis, mulai dari pemeriksaan dasar, konsultasi, hingga tindakan lanjutan oleh dokter spesialis. Contohnya, Ibu hamil diperiksa oleh dokter spesialis kandungan menggunakan USG. Pemeriksaan hipertensi dan jantung dilakukan oleh spesialis penyakit dalam dengan tes laboratorium sederhana dan EKG. Masalah kesehatan jiwa ditangani oleh dokter spesialis jiwa, Pertumbuhan anak dan stunting oleh spesialis anak dan ahli gizi, serta skrining TB dan penyakit paru oleh spesialis dalam atau paru.
Yunita menyebut, integrasi antara Speling dan program CKG telah meningkatkan penemuan kasus TB melalui skrining kontak erat, serta identifikasi dini kehamilan risiko tinggi dan gangguan kesehatan jiwa.
“Yang terpenting, masyarakat kini tak perlu jauh-jauh ke rumah sakit hanya untuk bertemu dokter spesialis,” ujarnya.
Program ini juga memiliki sistem pemantauan digital melalui dashboard Jateng, dengan input data rutin dari kabupaten/kota, termasuk capaian CKG dan sistem informasi TB (SITB).
Keberhasilan Speling tidak lepas dari sinergi lintas sektor, mulai dari Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, RS pemerintah maupun swasta, hingga organisasi profesi medis dan asosiasi rumah sakit.
Namun, Yunita mengakui ada tantangan yang dihadapi, terutama dalam penyesuaian jadwal dokter spesialis agar seluruh desa dapat terlayani. “Meski begitu, kami terus mencari pola terbaik agar layanan tetap berjalan merata,” ujarnya.
Selain pelayanan medis, Speling juga mengintegrasikan edukasi promosi kesehatan, konsultasi gizi, bimbingan gaya hidup sehat, hingga layanan psikologi klinis dan fisioterapi.
“Program ini sudah memiliki Surat Edaran dan Peraturan Gubernur sebagai pedoman agar pelaksanaannya berkesinambungan dan terkoordinasi,” tambah Yunita.
Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis kebutuhan riil masyarakat desa, Program Speling menjadi simbol pemerataan layanan kesehatan di Jawa Tengah. “Program ini bukan hanya soal layanan medis, tapi juga wujud kepedulian pemerintah bahwa kesehatan harus bisa dirasakan semua warga, dari kota hingga pelosok desa,” pungkas Yunita.
Langkah Strategis
Program speling (spesialis keliling) dokter yang diinisiasi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dinilai sebagai langkah strategis dalam memperluas akses layanan kesehatan spesialistik, terutama bagi masyarakat di wilayah terpencil.
Pakar kesehatan masyarakat Undip Dr Sutopo
- VIVA Jogja/dokpri
Meski demikian, pengamat kesehatan masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM Undip) Semarang, Dr. dr. Sutopo Patrio Jati, M.Kes, menilai bahwa program tersebut masih bersifat pragmatis dan belum menjadi solusi struktural atas ketimpangan distribusi dokter spesialis di daerah.
“Prinsipnya, program speling memiliki potensi strategis yang bagus untuk mengurangi kesenjangan akses layanan kesehatan spesialistik di Jawa Tengah. Namun sifatnya jangka pendek dan pragmatis, karena distribusi dokter spesialis memang belum merata,” ujar Sutopo menjawab VIVA Jogja.
Menurutnya, kehadiran dokter spesialis keliling bisa menjadi jembatan sementara bagi daerah yang selama ini belum pernah mendapatkan layanan medis spesialis. Selain membuka akses bagi masyarakat di pelosok, program ini juga diharapkan mampu menekan angka rujukan pasien ke rumah sakit di kota besar yang kerap mengalami overload.
“Selain efisiensi pembiayaan, speling juga lebih cost-effective dibanding membangun rumah sakit lengkap di setiap wilayah. Ada juga fungsi edukasi dan capacity building, karena melalui kegiatan ini dokter spesialis bisa mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada dokter di layanan primer,” jelasnya.
Namun Sutopo menegaskan, program speling belum mampu mengatasi akar persoalan mendasar, yakni produksi dan penempatan dokter spesialis yang tidak merata secara permanen. Sifat kunjungan yang periodik, katanya, membuat kontinuitas perawatan sulit dijaga, terutama bagi pasien dengan kebutuhan follow-up intensif.
“Program ini jelas belum menyelesaikan semua masalah. Tantangannya adalah kontinuitas pelayanan. Pasien yang butuh pemantauan jangka panjang tetap harus dirujuk ke rumah sakit karena kunjungan speling sifatnya sementara,” ucapnya.
Ia menambahkan, tantangan operasional juga perlu diperhatikan agar program ini tidak membebani tenaga medis. Menurutnya, beban kerja ganda berpotensi menimbulkan kelelahan (burn out) pada dokter spesialis yang bertugas keliling.
“Perlu sistem rotasi yang adil, insentif yang memadai, baik finansial maupun non-finansial, serta batasan kerja yang jelas. Dukungan logistik seperti kendaraan medis khusus dan sarana telemedicine juga sangat penting,” tegasnya.
Sutopo juga mendorong integrasi program speling dengan sistem layanan kesehatan yang sudah ada, seperti puskesmas dan rumah sakit rujukan.
Puskesmas, katanya, dapat berperan sebagai gatekeeper untuk melakukan seleksi pasien dan menyiapkan fasilitas ketika dokter spesialis datang. “Integrasi digital juga penting, terutama rekam medis yang bisa diakses lintas fasilitas agar tidak terjadi pemeriksaan berulang. Termasuk sinkronisasi dengan sistem klaim BPJS, supaya tidak membingungkan antara layanan primer dan rumah sakit rujukan,” jelasnya.
Indikator Keberhasilan
Lebih lanjut, Sutopo memaparkan indikator keberhasilan program ini dapat dilihat dalam tiga tahap: jangka pendek, menengah, dan panjang.
Dalam jangka pendek, indikatornya mencakup jumlah pasien yang dilayani, pemerataan cakupan wilayah, serta kepuasan pasien dan tenaga medis. Dalam jangka menengah, diharapkan jumlah rujukan menurun dan pelayanan primer makin mandiri. Sedangkan dalam jangka panjang, dampaknya diukur dari peningkatan status kesehatan masyarakat dan efisiensi pembiayaan kesehatan.
“Jika dijalankan berkesinambungan, speling bisa menurunkan morbiditas dan mortalitas kasus-kasus berat karena deteksi dini lebih cepat. Tapi keberlanjutannya sangat bergantung pada komitmen politik dan anggaran,” ujarnya.
Mengenai potensi penerapan nasional, Sutopo menilai hal itu perlu kajian dan persiapan matang. Menurutnya, ketimpangan distribusi dokter spesialis yang masih terpusat di Jawa–Bali (lebih dari 80%) menjadi hambatan besar untuk replikasi di luar Jawa.
“Kalau langsung diterapkan di seluruh Indonesia tanpa persiapan, justru bisa menimbulkan beban berlebih bagi dokter di daerah lain, serta potensi konflik dan ekspektasi masyarakat yang tidak realistis,” katanya.
Ia juga mengingatkan perlunya perlindungan hukum dan regulasi yang jelas bagi dokter spesialis yang terlibat dalam program tersebut, agar tidak menanggung risiko ganda dalam praktik di lapangan.
“Speling ini patut diapresiasi sebagai inovasi jangka pendek. Tapi untuk jangka panjang, pemerintah perlu memperbaiki sistem produksi, distribusi, dan perlindungan tenaga spesialis agar pemerataan layanan benar-benar berkelanjutan,” pungkas Sutopo.