Smart and Wise City: Paradigma Baru Kota Cerdas dari UGM
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Kota cerdas selama ini kerap dipahami sebatas penerapan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan, analisis big data, dan digitalisasi layanan publik. Namun bagi Prof Wakhid Slamet Ciptono, teknologi hanyalah satu sisi dari pembangunan kota. Tanpa kebijaksanaan, kota berisiko kehilangan ruh kemanusiaannya. Atas gagasan tersebut, Guru Besar Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada berhasil meraih Anugerah Insan Berprestasi UGM 2025 dalam kategori Penelitian Kolaboratif Tema Ketangguhan Sosial Budaya Masyarakat.
Konsep Smart and Wise City lahir dari riset bersama mahasiswa bimbingannya, Tri Wahyuningsih, yang meneliti pembangunan kota cerdas di Daerah Istimewa Yogyakarta. Wakhid menilai, smart city yang hanya menekankan efisiensi teknologi perlu dilengkapi dengan dimensi adab, etika, dan kearifan lokal. “Revolusi Industri 5.0 melahirkan masyarakat berpengetahuan. Namun tanpa adab, kemajuan itu bisa menimbulkan masalah sosial baru,” ujarnya.
Riset ini turut melibatkan Prof Joe Ravetz dari The University of Manchester, pakar pengembangan kota berkelanjutan sekaligus penulis buku Smart and Wise City. Ravetz menekankan bahwa kota masa depan harus mengintegrasikan nilai budaya dan sosial agar tidak sekadar menjadi mesin teknologi. Yogyakarta dipilih sebagai lokasi penelitian karena reputasinya sebagai kota pendidikan, kota budaya, sekaligus miniatur Indonesia. Penelitian dilakukan melalui wawancara dengan 29 narasumber, mulai dari Wakil Gubernur, Wali Kota, Kepala Bappeda, hingga tokoh masyarakat. Hasilnya menunjukkan dukungan luas agar konsep smart city diperluas menjadi smart and wise city. Jika terwujud, Yogyakarta berpotensi menjadi kota pertama di Indonesia yang mengimplementasikan konsep ini secara utuh.
Perjalanan riset tidak selalu mulus. Naskah awal sempat ditolak jurnal internasional bereputasi Q1. Namun penolakan itu justru menjadi pemantik refleksi dan penguatan gagasan. Ketika diajukan ke ajang kompetisi internal UGM, riset ini justru meraih penghargaan bergengsi. “Awalnya saya hanya berharap ada respon dari UGM. Tidak menyangka riset ini mendapat pengakuan sebagai karya berprestasi,” ungkap Wakhid.
Tren smart city di Indonesia sendiri menunjukkan perkembangan pesat. Lebih dari seratus kota dan kabupaten telah mengadopsi konsep ini melalui program Gerakan Menuju 100 Smart City yang digagas Kementerian Kominfo sejak 2017. Fokus utama masih pada digitalisasi layanan publik dan integrasi data. Namun laporan terbaru menyoroti bahwa aspek etika, budaya, dan kearifan lokal belum banyak diintegrasikan. DIY, dengan indeks pembangunan manusia yang termasuk tertinggi di Indonesia, menjadi lokasi ideal untuk menguji konsep kota arif dan bijaksana.