Mahasiswa UGM Hadirkan Inovasi Deteksi Dini Infeksi Jamur Mulut Berbasis IoT
- Humas UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Infeksi jamur di rongga mulut atau kandidiasis oral sering kali disalahartikan sebagai sariawan biasa. Padahal, kondisi yang ditandai dengan munculnya lesi putih pada mukosa mulut ini bisa menjadi indikator gangguan sistemik, mulai dari diabetes melitus hingga penurunan imunitas. Rendahnya kesadaran masyarakat dan terbatasnya alat diagnosis dini mendorong sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada untuk menciptakan solusi inovatif.
Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC), tim lintas disiplin yang diketuai Naila Evelyna Difani Putri menghadirkan Canditect, sebuah perangkat deteksi dini kandidiasis oral berbasis Internet of Things (IoT) dan machine learning. Tim ini beranggotakan mahasiswa dari berbagai bidang, mulai dari kedokteran gigi, teknik rekayasa internet, hingga teknik mesin.
Menurut Naila, deteksi dini sangat penting karena banyak orang tidak menyadari bahwa infeksi jamur Candida albicans bukan sekadar masalah ringan. “Dengan Canditect, masyarakat bisa melakukan pemeriksaan non-invasif melalui saliva. Cara ini lebih sederhana dan bisa meningkatkan kesadaran akan kesehatan mulut,” ujarnya.
Canditect bekerja dengan memanfaatkan tiga parameter utama: pH, kadar glukosa, dan aktivitas elektrokimia. Sensor berbasis Screen-Printed Carbon Electrode (SPCE) dipadukan dengan sensor pH dan glukosa, lalu data yang terkumpul dianalisis secara otomatis menggunakan algoritma random forest. Hasilnya, perangkat ini mampu mendeteksi tanda-tanda awal infeksi secara real time dan memberikan rekomendasi tindak lanjut bagi tenaga medis.
Berbeda dengan metode laboratorium yang membutuhkan waktu dan biaya besar, Canditect menawarkan alternatif praktis dan efisien. Meski begitu, proses pengembangan tidak selalu mulus. Tim sempat meneliti enzim Secreted Aspartyl Proteinase (SAP) yang berperan dalam virulensi Candida, namun sensitivitasnya terlalu rendah sehingga mereka beralih ke parameter lain yang lebih stabil.
Saat ini, prototipe Canditect masih terus disempurnakan. Uji coba pengambilan sampel saliva dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2025 dengan melibatkan responden penderita diabetes melitus, kelompok yang memiliki risiko tinggi terhadap kandidiasis oral.
Bagi Naila dan rekan-rekannya, kolaborasi lintas bidang menjadi kunci keberhasilan riset ini. “Kami belajar bahwa inovasi kesehatan bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga bagaimana memahami kebutuhan masyarakat dan menerjemahkannya menjadi solusi nyata,” tuturnya.