Inovasi RAP-VAC Mahasiswa UGM, Terapi Luka Efektif dengan Biaya Lebih Ringan
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Perawatan luka kronis masih menjadi tantangan besar dalam dunia kedokteran modern. Karakteristik luka yang beragam serta proses penyembuhan yang tidak selalu dapat diprediksi membuat penanganannya membutuhkan teknologi medis yang tepat. Di Indonesia, beban perawatan luka semakin meningkat seiring bertambahnya angka harapan hidup. Data menunjukkan sekitar 3% penduduk berusia di atas 65 tahun mengalami luka terbuka yang memerlukan perawatan intensif. Luka kronis lebih sering ditemukan pada perempuan dan lansia, dengan prevalensi 1,67 kasus per 1.000 penduduk. Jika dikaitkan dengan populasi nasional, diperkirakan terdapat lebih dari 278 ribu kasus luka kronis yang menjadi beban sistem kesehatan.
Salah satu metode yang terbukti efektif mempercepat penyembuhan luka adalah Vacuum Assisted Closure (VAC). Namun, biaya tinggi membuat teknologi ini sulit diakses secara luas, terutama di negara berkembang. Menyadari kendala tersebut, mahasiswa program doktor Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, dr. Meirizal, menghadirkan inovasi baru bernama Reverse Aqua Pump–VAC (RAP-VAC).
Dalam ujian terbuka promosi doktor yang digelar di auditorium FK-KMK UGM, Kamis (9/4), Meirizal memaparkan hasil penelitiannya berjudul “Perawatan Luka yang Ekonomis dan Efektif sebagai Proses Persiapan Cangkok Kulit Bedah Lanjut dengan Menggunakan Inovasi Reverse Aqua Pump–Vacuum Assisted Closure: Studi Klinis Acak Non-Inferioritas”. Penelitian ini bertujuan menghadirkan alternatif terapi luka yang lebih murah namun tetap memiliki efektivitas klinis setara dengan VAC komersial.
Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta selama lima bulan, dari April hingga Agustus 2025. Subjek penelitian adalah pasien dengan defek luka yang membutuhkan rekonstruksi lanjutan pada Sub Divisi Bedah Tangan dan Rekonstruksi Mikro. Dari 26 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, 24 di antaranya dianalisis setelah dua pasien tereksklusi karena memerlukan tindakan bedah lanjutan berupa flap rekonstruksi. Subjek dibagi menjadi dua kelompok: RAP-VAC dan VAC komersial, masing-masing terdiri dari 12 pasien.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa RAP-VAC memiliki efektivitas yang setara dengan VAC komersial. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada derajat granulasi luka maupun durasi tunggu untuk rekonstruksi lanjutan. Tingkat kenyamanan pasien juga relatif sama. Namun, terdapat perbedaan signifikan pada status infeksi luka, serta yang paling mencolok adalah biaya perawatan. RAP-VAC terbukti jauh lebih murah dibandingkan VAC komersial, sehingga membuka peluang akses yang lebih luas bagi pasien di fasilitas kesehatan dengan keterbatasan sumber daya.