Kanker Usus Besar Ancaman Generasi Muda, Waspadai Pola Hidup Modern

dr Fadli Robby Amsriza
Sumber :
  • DOK Humas UMY

VIVA Jogja - Dalam beberapa tahun terakhir, tren kanker usus besar atau kanker kolorektal menunjukkan peningkatan yang cukup mengkhawatirkan. Jika sebelumnya penyakit ini lebih banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut, kini dokter mulai menghadapi kasus pada pasien yang bahkan belum berusia 50 tahun. Fenomena ini menimbulkan perhatian serius karena menyasar generasi produktif yang seharusnya berada di puncak aktivitas hidupnya.

img_title WMO Prediksi 2030 Jadi Periode Terpanas, Akademisi UMY Ingatkan Pentingnya Adaptasi Pengelolaan Air

Dokter Spesialis Bedah RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta, dr Fadli Robby Amsriza, mengonfirmasi adanya tren peningkatan tersebut. Ia menyebutkan bahwa berbagai penelitian terbaru menunjukkan kasus kanker kolorektal pada kelompok usia muda meningkat sekitar 1–2 persen setiap tahun. Angka ini mungkin terlihat kecil, tetapi jika dikaitkan dengan populasi besar, maka dampaknya sangat signifikan.

Menurut dr. Fadli, faktor genetik memang tetap berperan, namun bukan penyebab utama lonjakan kasus saat ini. Pola hidup masyarakat modern menjadi pemicu terbesar. Konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, makanan yang dibakar, serta makanan ultra-proses yang tinggi lemak dan rendah nutrisi dapat memicu peradangan mikro di usus besar. Peradangan yang berlangsung lama berpotensi berkembang menjadi kanker. Selain itu, pola makan rendah serat dan tinggi gula juga memperbesar risiko, ditambah kurangnya aktivitas fisik yang berujung pada obesitas.

img_title PPN 11 Persen Strava, Pakar UMY Tegaskan Bukan Pajak Olahraga

Ironisnya, kanker usus besar sering kali tidak terdeteksi sejak dini, terutama pada kelompok usia muda. Salah satu gejala yang paling umum adalah buang air besar (BAB) berdarah. Namun, banyak orang menganggapnya hanya sebagai wasir atau ambeien sehingga enggan memeriksakan diri. Padahal, deteksi dini sangat menentukan keberhasilan pengobatan. Dr. Fadli menekankan bahwa ketakutan generasi muda untuk memeriksakan diri karena khawatir harus menjalani operasi justru memperburuk keadaan. Tidak semua kasus harus dioperasi, dan penanganan sangat bergantung pada stadium penyakit.

Selain BAB berdarah, gejala lain yang sering diabaikan adalah munculnya benjolan di area anus, rasa gatal yang tidak biasa, serta penurunan berat badan drastis tanpa sebab jelas. Sayangnya, sebagian besar pasien baru datang berobat ketika kondisi sudah memasuki stadium lanjut. Padahal, tingkat kesembuhan kanker kolorektal bisa mencapai 95 persen jika terdeteksi sejak dini. Namun, angka tersebut turun drastis hingga di bawah 50 persen bila kanker sudah menyebar.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Polyworking: Strategi Bertahan dan Pilihan Karier di Tengah Dinamika Pasar Kerja Indonesia