Konflik Iran dan Dampaknya terhadap Ekspor Indonesia
- Dok UMY
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran mulai menimbulkan guncangan terhadap kinerja ekspor Indonesia. Situasi global yang penuh ketidakpastian tidak hanya memengaruhi harga energi, tetapi juga mengganggu rantai pasok internasional serta menekan permintaan global. Kondisi ini menimbulkan tantangan baru bagi struktur ekspor nasional, terutama pada sektor manufaktur yang sangat sensitif terhadap perubahan biaya produksi.
Pakar Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Susilo Nur Aji Cokro Darsono, S.E., M.R.D.M., Ph.D., menilai bahwa dampak konflik geopolitik bekerja melalui jalur transmisi yang saling berkaitan. Ia menjelaskan, tekanan terhadap perdagangan internasional muncul dari tiga faktor utama: lonjakan harga energi, gangguan arus perdagangan, dan kontraksi permintaan global. “Ketiganya saling memengaruhi. Harga energi yang naik meningkatkan biaya produksi, gangguan perdagangan memperlambat logistik, sementara permintaan yang melemah membuat ekspor manufaktur semakin tertekan,” jelas Susilo dalam diskusi daring, Kamis (9/4).
Menurutnya, dampak konflik Iran terhadap ekspor Indonesia bersifat asimetris. Sektor komoditas seperti batu bara dan LNG justru diuntungkan oleh kenaikan harga global, sementara industri manufaktur menghadapi tekanan berat. “Kenaikan harga energi memang memberikan efek positif bagi komoditas melalui price effect. Namun, manufaktur mengalami cost-push inflation akibat biaya produksi yang meningkat, rantai pasok terganggu, dan permintaan internasional yang melemah,” ujarnya.
Susilo menambahkan, penyusutan surplus perdagangan Indonesia tidak bisa hanya dimaknai sebagai penurunan permintaan global. Perubahan tersebut merupakan hasil interaksi kompleks antara harga, volume perdagangan, dan dinamika impor energi. “Perlambatan manufaktur global akibat tekanan biaya serta meningkatnya impor energi menunjukkan adanya external shock yang signifikan. Ini lebih mencerminkan penurunan kualitas komposisi neraca perdagangan, bukan sekadar melemahnya daya saing ekspor,” katanya.
Ia menyoroti bahwa sektor manufaktur padat energi menjadi kelompok paling rentan. Industri yang terhubung dengan rantai nilai global memiliki ketergantungan tinggi terhadap input impor dan biaya energi. Jika tren ini berlanjut, arah pembangunan industri nasional bisa terganggu. “Ketika komoditas semakin dominan akibat kenaikan harga global, sementara manufaktur melemah, terdapat risiko re-primarisasi ekonomi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan daya saing industri nasional dan memperlambat transformasi menuju sektor bernilai tambah tinggi,” tandasnya.