Kenali Gejala Digital Fatigue pada Mahasiswa dengan Digital Detox

Taufiqur Rahman
Sumber :
  • Humas UMY

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Fenomena digital fatigue, yakni kelelahan akibat penggunaan perangkat digital secara berlebihan, kian terasa di kalangan mahasiswa. Generasi Z, yang kesehariannya tak lepas dari dunia digital, dinilai paling rentan mengalami kondisi ini.

img_title Mobil™ Run The Island Series 2026 Resmi Dimulai di Yogyakarta, Dekatkan Brand dengan Komunitas Lari Lokal

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Taufiqur Rahman menjelaskan bahwa digital fatigue merupakan kelelahan fisik dan mental yang timbul akibat paparan perangkat digital secara terus-menerus.

“Secara umum, istilah digital fatigue merujuk pada kelelahan fisik maupun psikis yang muncul karena penggunaan media digital yang berlebihan. Mahasiswa menjadi kelompok paling rentan karena mereka sangat intens mengakses media sosial dan internet,” ujar Taufiq saat diwawancarai, Selasa (09/09/2025).

img_title Pemimpin Perguruan Tinggi Harus Hadirkan Terobosan, Pesan Haedar Nashir di Milad ke-35 UNISA Yogyakarta

Ia menambahkan, kelelahan digital tak hanya menurunkan kemampuan konsentrasi, tetapi juga berisiko mengganggu kesehatan mental. Gejalanya meliputi kesulitan fokus, rasa lelah berlebihan, hingga keluhan fisik seperti pusing dan mata tegang. “Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang menjadi depresi. Awalnya menyerang fisik, mata lelah karena terlalu lama menatap layer, namun lama-kelamaan berdampak pada psikis,” jelasnya.

Arus informasi yang deras dan beragam turut memperburuk keadaan. Mahasiswa harus mencerna berbagai konten dalam waktu bersamaan, sehingga beban mental meningkat dan kelelahan fisik pun ikut terdampak.

img_title UMY Targetkan 7.500 Mahasiswa Baru, Dosen Diminta Aktif Promosikan Kampus

Meski demikian, Taufiq menekankan bahwa teknologi digital tak bisa dihindari, terutama dalam dunia akademik. Solusinya bukan menjauh dari gawai, melainkan menjaga keseimbangan dalam penggunaannya.

Ia merekomendasikan konsep digital detox sebagai langkah pencegahan sekaligus pemulihan. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.

“Jika mulai muncul gejala seperti sulit fokus, cepat lelah, atau gangguan pada mata, digital detox perlu dilakukan. Caranya bisa dengan mengurangi durasi penggunaan media, membatasi akses hanya pada hal-hal penting, dan menghindari aktivitas scrolling yang tidak perlu,” tutup Taufiq.