Chinese Food Halal 20 Ribuan Ini Bikin Jogja Panas!

Alam Kitchen Jogja
Sumber :
  • VIVA Jogja/IG melipirkulineran

VIVA Jogja - Di tengah melonjaknya harga sewa kawasan Kranggan, Yogyakarta, muncul satu tempat makan yang seolah menantang logika bisnis kuliner. Bagaimana tidak, di lokasi yang dikenal “mahal”, justru berdiri sebuah restoran yang menjual menu ala Chinese food halal dengan harga mulai dari Rp20 ribuan.

img_title Ngumpet di Kebun Kelengkeng! Resto Gen Z Ini Nekat Naikkan Level Rasa Lokal

Fenomena ini bukan sekadar unik—tapi juga provokatif. Adalah Alam Yogyakarta, sebuah tempat makan yang diam-diam mencuri perhatian para pemburu kuliner hemat tapi berkualitas. Dengan konsep sederhana namun serius di dapur, restoran ini menyajikan berbagai menu comfort food yang akrab di lidah, tanpa membuat dompet menjerit.

Menu yang ditawarkan terbilang “aman tapi mematikan”. Ada capcay seafood dengan sayuran segar dan rasa gurih yang nendang, sup sehat yang ringan namun tetap kaya rasa, hingga chicken butter milk yang creamy dan bikin nagih. Namun, satu menu yang mencuri perhatian adalah mie lada hitam—hidangan sederhana yang justru jadi bintang utama.

img_title Pastry “Centil” di Palagan Jogja: Louis Franc, Surga Tersembunyi yang Siap Menantang Kafe di Mall

Pedasnya khas, dengan aroma smoky yang kuat, menciptakan sensasi makan yang sulit dilupakan. Yang menarik, harga-harga ini terasa hampir “tidak masuk akal” jika melihat lokasi dan kualitas rasa yang disajikan. Di saat banyak tempat lain berlomba menaikkan harga, Alam Yogyakarta justru bermain di jalur sebaliknya: memberikan rasa maksimal dengan harga minimal.

Tak heran jika tempat ini mulai dilirik sebagai opsi ideal untuk makan siang karyawan kantoran, tempat singgah para sales setelah berkeliling, hingga lokasi makan malam keluarga besar. Dari sisi suasana, tempat ini juga tidak main-main.

img_title Cuma Jual Telur Ceplok, Tapi Ludes Ratusan Butir! Cabang Baru Ceplok Telor Godean Jadi “Bandar Protein” Warga Jogja

Dengan ruangan ber-AC dan tata ruang yang nyaman, pengunjung bisa menikmati makanan tanpa harus berdesakan atau kepanasan. Vibes-nya santai, cocok untuk ngobrol panjang tanpa tergesa-gesa. Ini bukan sekadar tempat makan cepat—tapi ruang untuk menikmati waktu bersama.

Fenomena seperti ini tentu memunculkan pertanyaan: sampai kapan harga “bersahabat” ini bisa bertahan di tengah tekanan biaya operasional yang terus naik? Apakah ini strategi jangka panjang, atau sekadar fase awal untuk menarik pelanggan? Jawabannya mungkin hanya diketahui oleh pemiliknya.

Halaman Selanjutnya
img_title