Pranoto Mongso: Membaca Musim Jawa dan Refleksi Iklim Modern

Pranoto Mongso atau sistem penanda waktu dalam pertanian Jawa
Sumber :
  • jogja.viva.co.id/ Fuska Sani Evani

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pengetahuan tradisional Jawa khususnya bidang pertanian tetap relevan dan dosen Fakultas Arsitektur dan Desain Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Dr Sn R Tosan Tri Putro, memaparkan pengetahuan tradisional “Pranoto Mongso dalam forum Mini Symposium “Art, Ecology & Climate Futures” pada Rabu (29/07/2026). Ia menekankan bahwa sistem pembagian musim yang diwariskan leluhur Jawa bukan sekadar catatan budaya, melainkan ilmu ekologis yang mampu memberi panduan bagi manusia dalam menghadapi perubahan iklim.

img_title Simposium Seni, Ekologi, dan Masa Depan Iklim: Dari Narasi Emosional hingga Filosofi

Menurut Tosan, Pranoto Mongso membagi satu tahun menjadi dua belas musim, bukan berdasarkan bulan yang rata-rata 30 hari, melainkan berdasarkan tanda-tanda alam yang muncul. Musim pertama disebut mongso kapisan, kemudian berlanjut ke mongso kapindo, mongso katelu, hingga mongso kaping rolas. Setiap musim memiliki jumlah hari yang berbeda, ada yang 20 hari, ada yang 40 hari, dan semuanya ditentukan oleh pergerakan matahari serta fenomena alam yang menyertainya. “Fungsi dari pranoto mongso ini sebenarnya untuk mengantisipasi dan mempersiapkan bencana atau perubahan yang terjadi di alam, baik itu angin, binatang, maupun tanaman,” jelasnya.

Ia mencontohkan bahwa pada bulan Juni hingga September, masyarakat Jawa mengenal masa terang yang kering. Pada mongso kapisan dan mongso kapindo, tanda-tanda kekeringan mulai terasa. Agustus dikenal dengan istilah Bantolo Renggok, musim panas yang mulai berakhir, sementara September disebut kasep-kaseping sumber, yang berarti air mulai telat muncul. “Orang tua dulu percaya bahwa membuat sumur di bulan September lebih sulit karena sumber air sudah sangat telat. Itu bukan sekadar mitos, melainkan hasil pengamatan panjang terhadap alam,” ujarnya.

img_title KLH Adopsi Kearifan Lokal DIY, Sri Sultan Ingatkan Kesadaran Menjaga Alam

Memasuki Oktober dan November, masyarakat Jawa menyebutnya sebagai masa tanjuran mas sumamreni jagat, ditandai dengan turunnya hujan. Pada musim-musim berikutnya, pranoto mongso juga mencatat kapan penyakit biasanya muncul. “Kalau kita sekarang bilang Februari-Maret itu musim demam berdarah, sebenarnya pranoto mongso sudah lama menyebutkan bahwa penyakit banyak muncul di musim itu,” kata Tosan. Baginya, pranoto mongso adalah bentuk ilmu titen—ilmu pengamatan yang diwariskan leluhur untuk membaca tanda-tanda alam dan perilaku manusia.

Halaman Selanjutnya
img_title