Sri Sultan Diminta BNPB Angkat Pengalaman Jogja dalam Forum Resiliensi Global
- Dok Humas Pemda DIY
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan pentingnya peran Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam membangun ketahanan bangsa menghadapi bencana. Hal itu disampaikan Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, usai bertemu dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Senin (10/08/2026). Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ajang undangan resmi bagi Sri Sultan untuk hadir dan berbagi pengalaman dalam The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) 2026 yang akan berlangsung di Jakarta pada 9–10 September mendatang.
Raditya menekankan bahwa Yogyakarta memiliki catatan panjang dalam menghadapi bencana, terutama sejak gempa besar 2006 yang kini genap dua dekade. Menurutnya, pengalaman Sri Sultan dalam memimpin penanganan bencana di daerah menjadi pembelajaran berharga yang relevan untuk forum internasional. “Yogyakarta punya banyak pembelajaran kebencanaan. Dua puluh tahun pascagempa 2006, pengalaman Ngarsa Dalem sangat dibutuhkan untuk memperkaya diskusi global,” ujarnya. GFSR 2026 sendiri akan digelar bersamaan dengan Asia Disaster Management & Civil Protection Expo & Conference ke-5, sehingga diharapkan menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menegaskan posisi sebagai pusat pembelajaran kebencanaan.
Dalam pertemuan itu, BNPB juga mengusung gagasan besar mengenai pembangunan resiliensi bangsa yang berakar dari masyarakat. Raditya menjelaskan bahwa pendekatan berbasis komunitas atau people centered approach menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan nasional. Untuk itu, BNPB telah menggelar sejumlah seminar pendahuluan, termasuk di Yogyakarta, yang membahas peran lokal dalam membangun ketahanan hingga ke level nasional. “Resiliensi bangsa tidak bisa hanya dibangun dari atas, harus dimulai dari masyarakat. Itulah yang ingin kami dorong,” tambahnya.
Selain itu, BNPB bersama Sri Sultan juga membicarakan konsep sustainable resilience yang akan diangkat Indonesia ke panggung dunia. Konsep ini sebelumnya pernah diperkenalkan pada 2022 ketika Indonesia menjadi tuan rumah Global Platform for Disaster Risk Reduction. Raditya menilai, tema resiliensi berkelanjutan mampu merangkum berbagai isu lintas sektor, mulai dari kebencanaan, perubahan iklim, pembangunan infrastruktur, hingga pembiayaan risiko. Dengan pendekatan ini, setiap sektor diharapkan tidak lagi bekerja secara terpisah, melainkan saling terhubung dalam kerangka besar ketahanan berkelanjutan.