Dari Eks JI ke Agen Perubahan, BNPT-Densus 88 Garap Transformasi Ponpes Al Muttaqin
- VIVAJogja
VIVAJogja – JEPARA, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI memperkuat strategi deradikalisasi dengan pendekatan yang tidak hanya menyentuh aspek ideologi, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi pesantren.
Pendekatan tersebut diterapkan di Pondok Pesantren Al Muttaqin, Jalan Sowan-Tedunan Km 3, Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, yang memiliki sejarah keterkaitan dengan eks Jamaah Islamiah (JI).
BNPT bersama Densus 88 Antiteror Polri menggelar rangkaian seminar dan peningkatan kemampuan di pesantren tersebut pada 10-17 Agustus 2026. Kegiatan bertajuk Semangat Kemerdekaan Menuju Pondok Pesantren Al Muttaqin Mandiri dan Bebas dari Intoleransi, Radikalisme, serta Ekstremisme yang Mengarah pada Terorisme itu menjadi bagian dari pembinaan dan pendampingan berkelanjutan pascadeklarasi pembubaran JI pada 2024 silam.
Kepala BNPT RI Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono mengatakan, langkah tersebut merupakan bentuk tindak lanjut pembinaan terhadap lingkungan pesantren yang sebelumnya memiliki keterkaitan dengan JI.
“Ini sebenarnya tindak lanjut deklarasi eks Jamaah Islamiyah. Karena dulunya pesantren ini merupakan bagian dari JI, sehingga kami merasa perlu melakukan pembinaan dan pendampingan dalam konteks deradikalisasi,” kata Eddy Hartono saat diwawancarai VIVAJogja, Rabu (12/8).
Namun, menurut Eddy, deradikalisasi tidak cukup dilakukan melalui seminar maupun edukasi wawasan kebangsaan dan keagamaan. Santri juga perlu memiliki bekal nyata agar mampu membangun masa depan secara mandiri.
Karena itu, BNPT mendorong penguatan keterampilan dan kewirausahaan sebagai bagian dari strategi pembinaan.
“Harapannya ke depan kita menciptakan sistem ekonomi di pondok pesantren, agar para santrinya punya bekal keterampilan untuk masa depan,” tegasnya.
Pendekatan tersebut membuat program di Ponpes Al Muttaqin tidak berhenti pada pembahasan tentang intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme. Para santri justru diarahkan untuk memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan menjadi usaha produktif.
Sebanyak 20 peserta mengikuti pelatihan teknisi AC dari PT Astra International. Lima peserta mengikuti pelatihan barista dari Amuya Coffee Academy, sementara 10 peserta mengikuti pelatihan pangkas rambut dari Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN.
Sebanyak 20 peserta lainnya mengikuti pelatihan konten kreator dan digital marketing dari Universitas Islam NU Jepara. Sementara pelatihan menulis dari Yayasan Rumah Wasatiyah diikuti 50 peserta.