Kupas Bawang Merah Jadi Ajang Guyub Warga
- Istimewa
SLEMAN, VIVA Jogja – Semarak peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Dusun Sedan, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, menghadirkan sebuah perlombaan yang tak biasa namun penuh makna. Jumat (21/08/2026) malam, halaman Gardu Pos Ronda RT 06/RW 34 berubah menjadi arena lomba kupas bawang merah yang diikuti puluhan bapak-bapak warga setempat. Meski sederhana, suasana yang tercipta begitu meriah, penuh tawa, dan sarat kebersamaan.
Lomba kupas bawang merah ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan 17 Agustusan yang selalu dinanti. Tidak sekadar menguji kecepatan, perlombaan ini menuntut ketelitian dan kesabaran. Peserta harus mampu mengupas kulit bawang merah hingga bersih tanpa merusak dagingnya. Tantangan terbesar tentu saja rasa pedih di mata yang membuat air mata mengalir, namun semangat kebersamaan membuat para peserta tetap bertahan.
Sistem penilaian lomba ditentukan dari kerapian kupasan, kecepatan, serta jumlah bawang yang berhasil dikupas. Hendra Irawan (35), salah satu peserta, mengaku tak sanggup menyelesaikan tantangan karena perihnya bawang merah. “Air mata terus keluar, jadi saya menyerah,” ujarnya sambil tertawa. Meski begitu, kegagalan bukanlah hal yang disesali, karena inti dari perlombaan ini bukan sekadar menang atau kalah.
Hal itu ditegaskan oleh Heru Santosa, peserta lainnya, yang menilai lomba kupas bawang merah lebih dari sekadar kompetisi. “Yang penting bukan hasilnya, tapi keguyuban, kekompakan, dan silaturahmi antarwarga. Itu yang membuat acara ini berharga,” katanya. Pandangan tersebut sejalan dengan tujuan utama perayaan HUT RI di tingkat dusun, yakni mempererat persaudaraan dan menumbuhkan semangat kebangsaan melalui kegiatan sederhana namun bermakna.
Selain lomba kupas bawang merah, panitia juga menggelar berbagai permainan tradisional yang tak kalah seru. Ada lomba memasukkan bolpoin ke dalam botol, menggiring balon dengan terong, hingga lomba konsentrasi warna. Gelak tawa pecah di setiap sesi, baik dari peserta maupun penonton. Anak-anak, ibu-ibu, hingga para bapak yang menjadi peserta larut dalam suasana penuh canda.
Kemeriahan ini menjadi bukti bahwa perayaan kemerdekaan tidak harus selalu megah. Justru melalui lomba sederhana, nilai kebersamaan dan semangat gotong royong lebih terasa. Dusun Sedan menunjukkan bahwa tradisi 17 Agustusan bukan hanya ajang hiburan, melainkan juga sarana memperkuat ikatan sosial.