Ikan Kecil Penghasil Devisa, 20 Ton Sekali Ekspor
- VIVAJogja
VIVAJogja – JEPARA, Produk perikanan hasil tangkapan nelayan dan budidaya di kabupaten Jepara Jawa Tengah (Jateng) mulai menembus pasar ekspor Asia. Tak hanya teri nasi dan teri jengki, produk yang dikembangkan juga mencakup udang vaname, udang windu hingga kerapu hingga RajunganÂ
Badan Pengelola Kampus Undip Jepara Profesor Dr. I Nyoman Widiasa mengatakan, pengembangan produk perikanan tersebut telah berjalan sekitar dua tahun. Dalam kurun waktu itu, produk perikanan telah dikirim ke Jepang sebanyak empat kali dan Singapura sekitar empat kali.
Sementara ekspor ke Sri Lanka baru dilakukan satu kali. Pihaknya kini terus memperluas jaringan pembeli, termasuk membidik pasar Taiwan (02/10).
"Dan kami terus meningkatkan jumlah buyer dari negara-negara khususnya Jepang dan di Asia," ujar Nyoman.
Menurut Nyoman, bahan baku produk sebagian besar berasal dari hasil tangkapan nelayan yang dikumpulkan dari berbagai wilayah. Jangkauan pasokannya bahkan mencapai Brebes hingga Madura, serta dari Lampung sampai Madura.
"Kami menyebutnya ikan kecil penghasil devisa," katanya.
Untuk kapasitas pengiriman, teri jengki dapat mencapai hampir 20 ton dalam satu kali pengiriman menggunakan kontainer 40 feet. Sedangkan teri nasi berkisar 6 hingga 8,4 ton dengan kontainer 20 feet, menyesuaikan kebutuhan pembeli.
Pengiriman belum dapat dilakukan secara rutin setiap bulan karena bergantung pada ketersediaan kontainer dan permintaan dari negara tujuan.
"Jadi kami tidak bisa memastikan setiap bulan, setiap dua bulan. Tidak. Rata-rata per tahun kita targetkan enam kali, minimal enam kali dalam setahun untuk ke Jepang," ujarnya.
Khusus teri nasi, Jepang menjadi salah satu pasar utama dengan target minimal enam kali pengiriman dalam setahun. Sementara untuk Sri Lanka, pihaknya berharap frekuensi pengiriman teri jengki dapat ditingkatkan hingga satu kali setiap bulan.
Selain produk tangkapan, peluang ekspor juga terbuka untuk komoditas hasil budidaya seperti udang vaname, udang windu dan kerapu. Namun, menurut Nyoman, pengembangan di Kampus Undip Jepara tidak semata-mata mengejar peningkatan volume ekspor.
"Ekspor dari udang itu sudah banyak dilakukan di Indonesia. Nah, kami melakukan di sini lebih pada penekanan adalah proses pendidikan," katanya.