LPS Hadapi 2,5 Miliar Serangan Siber, Pakar UGM Beri Tips Perlindungan Keamanan Data

LPS Hadapi 2,5 miliar serangan siber
Sumber :
  • istimewa

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Sepanjang 17 Juni hingga 3 Juli lalu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mendapat serangan siber DoS (distributed denial of service) sebanyak 2,5 miliar. Oleh karena itu, LPS dan lembaga lainnya perlu untuk memperkuat keamanan data.

img_title Jogja Financial Festival 2026: Literasi Keuangan Generasi Muda di Era Digital

Pakar keamanan data digital UGM, Prof Ridi Ferdiana, mengatakan serangan siber ini bisa mengancam reputasi lembaga apabila sistem keamanan data tidak diperkuat sebagaimana mana mestinya. Menurutnya masih banyak sistem pengoperaian data, khususnya sistem keuangan perbankan yang masih berjalan di sistem operasi dan teknologi yang lama bahkan sudah usang. “Beberapa bahkan kita temukan masih menggunakan versi 2008 untuk sebuah Windows Server ataupun bahkan yang lebih lama,” kata Ridi, Selasa (08/07/2025)

Untuk meningkatkan keamanan data dan sistem operasi yang terlindungi tingkat keamanannya diperlukan infrastruktur legacy  yang baik, sebab proses pengamanan atau proses patching keamanannya itu bisa sampai 24 jam lebih per instance. Tingkatan perlindungan ini tergantung dari jumlah data, instance serta dukungan server yang ada. “Belum lagi adanya keterbatasan SDM, harusnya kepatutan regulasi dan standar internasional yang menambah aktivitas ekstra ,” tuturnya.

img_title UGM, Bio Farma, dan Sinovac Perkuat Kolaborasi Riset Vaksin untuk Indonesia

Untuk mengantisipasi serangan siber seperti pencurian atau penyalahgunaan data akibat sistem keamanan yang mampu dibobol, maka beberapa langkah yang bisa diambil diantaranya memiliki platform threat intelligence. Analisis ancaman real time ini  sudah bisa mendeteksi sekitar 85% serangan awal. Selanjutnya, kolaborasi dengan badan pihak terkait, misalnya BSSN dan pemangku kepentingan yang lain.

“Seperti dukungan dari penyedia ISP, sehingga kita bisa melakukan proses indicator compromise dari awal. Jadi misalnya kita bisa, apabila serangan itu masuk ke Yogyakarta, kita bisa cegah serangan tersebut di Singapura,” katanya.

img_title RI Rencanakan Pembangunan PLTN, UGM Siap Dukung dari Sisi SDM

Kedua, lanjutnya, menjalin kolaborasi dengan berkonsultasi dengan BSSN terkait dengan sharing indikator compromise atau IOC. Karena BSSN pun mampu mendata dan melihat pola serangan-serangan siber tersebut. “Harus ada yang kolaborasi dengan BSSN ataupun pemangku kepentingan,” paparnya.

Selanjutnya yang tidak kalah penting, adalah menguatkan infrastruktur network scrubbing untuk meredam sekarang serangan dalam skala besar. “Jadi ada infrastruktur khusus yang memang dipasang,” paparnya.

Halaman Selanjutnya
img_title