Deepfake Ancam Disinformasi dan perpecahan Bangsa
- Humas UMY
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Di era digital yang semakin canggih, teknologi kecerdasan buatan (AI) telah melahirkan fenomena baru yang mengkhawatirkan, deepfake. Video dan audio palsu yang tampak sangat nyata ini bukan lagi sekadar permainan teknologi, melainkan senjata manipulasi yang bisa merusak reputasi, menyesatkan publik, dan bahkan mengancam persatuan bangsa.
Pakar Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Firly Annisa mengungkapkan bahwa deepfake merupakan hasil rekayasa digital berbasis AI yang mampu meniru suara dan wajah seseorang dengan tingkat kemiripan yang mencengangkan. Meski teknologi ini punya potensi positif dalam dunia hiburan, edukasi, dan pemasaran, penyalahgunaannya untuk penipuan, pelecehan, dan propaganda politik semakin meresahkan.
“Teknologi ini bisa digunakan untuk membuat video palsu yang menipu publik atau merusak reputasi tokoh. Contohnya, video manipulatif yang menampilkan Menteri Keuangan Sri Mulyani seolah menyebut guru sebagai beban negara. Padahal itu bukan pernyataan asli, tapi dampaknya nyata—menimbulkan kemarahan dan kesalahpahaman,” jelas Firly dalam wawancara daring.
Rendahnya Literasi Digital, Tingginya Risiko Manipulasi
Penyebaran konten deepfake semakin tak terbendung karena masyarakat belum sepenuhnya memahami bahayanya. Platform media sosial seperti TikTok, Instagram, Twitter, dan WhatsApp menjadi jalur penyebaran cepat, sementara kemampuan publik untuk memilah informasi masih terbatas.
“Banyak orang belum bisa membedakan mana konten asli dan mana hasil manipulasi. Ketimpangan pendidikan dan lemahnya daya kritis membuat masyarakat mudah percaya begitu saja,” tambah Firly.
Berbeda dari hoaks berbasis teks, deepfake menyajikan narasi yang lengkap—visual, suara, dan cerita—sehingga lebih meyakinkan dan sulit dikenali sebagai palsu.
Firly menekankan bahwa literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga soal etika dan nilai. Ia menyoroti tren konten viral yang seringkali mengabaikan aspek edukatif dan etis.
“Budaya digital kita cenderung mengejar viralitas, bukan nilai. Misalnya tren sound horeg yang ramai di media sosial, tapi minim makna. Padahal, etika adalah fondasi penting dalam literasi digital,” tegasnya.
Meski deepfake bisa dimanfaatkan secara positif, Firly menegaskan bahwa pendidikan adalah benteng utama dalam menghadapi ancaman manipulasi digital. Pendidikan yang baik akan membentuk masyarakat yang kritis, cerdas memilah informasi, dan tahan terhadap pengaruh negatif.