Jembatan Kleringan ‘Kewek’ dalam kondisi Kritis

Jembatan Kleringan Yogyakarta
Sumber :
  • jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani

VIVA Jogja - Jembatan Kleringan Yogyakarta telah berusia lebih dari 100 tahun, kini dalam kondisi kritis. Pemerintah Kota Yogyakarta menyiapkan rekonstruksi total pada tahun 2026 karena kekuatan struktur jembatan hanya tersisa sekitar 10–20 persen.

img_title Evaluasi Regol Ayom Malioboro, Pemkot dan Pemda DIY Tekankan Akses Ramah Disabilitas

Jembatan Kleringan, yang juga dikenal sebagai Jembatan Kewek atau Jembatan Amarta, penghubung utama Kota Baru Yogyakarta menuju kawasan Malioboro dan Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menyebutkan jika kondisi ini berpotensi membahayakan pengguna jalan jika tidak segera ditangani. Pemkot Kota Yogya pun telah menyusun Detail Engineering Design (DED) untuk pembangunan ulang jembatan, dengan estimasi anggaran sekitar Rp 12 miliar.

Seperti disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogya, Umi Akhsanti, jembatan tersebut tidak lagi bisa sekadar direnovasi, melainkan harus dibangun ulang, karena tingkat kerusakan sudah mencapai titik kritis. Sebagai langkah antisipasi, Pemkot berencana melarang bus pariwisata dan truk melintas di jembatan tersebut, terutama menjelang liburan akhir tahun atau Nataru 2025.

img_title Akses Difabel Regol Ayom di Malioboro Masih Uji Coba

Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X juga menyoroti kondisi Jembatan Kleringan. Namun, Sultan menegaskan bahwa kewenangan penuh terkait proyek ini berada di tangan Pemkot Yogyakarta. Pemerintah Daerah DIY akan menunggu laporan resmi dari Pemkot sebelum menentukan bentuk partisipasi lebih lanjut.

Jembatan Kleringan memiliki nilai sejarah karena membentang di atas Kali Code dan menjadi salah satu akses vital yang menghubungkan kawasan Kotabaru dengan Malioboro. Dengan kondisi yang semakin memprihatinkan, rekonstruksi total diharapkan tidak hanya memperkuat struktur, tetapi juga menjaga fungsi strategis jembatan sebagai jalur utama transportasi dan ikon kota.

img_title Yogyakarta Merayakan Kehidupan Budaya dengan Semangat “Manjing Ajur Ajer”

Masa kolonial Belanda

Jembatan Kleringan, adalah saksi bisu perjalanan sejarah kota, berdiri lebih dari 100 tahun sejak masa kolonial Belanda. Dibangun bersamaan dengan jaringan rel kereta api dan Stasiun Lempuyangan oleh perusahaan Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada tahun 1872, jembatan ini sejak awal dirancang untuk mendukung mobilitas modern di Hindia Belanda.

Nama “Kewek” diyakini berasal dari istilah Belanda “Kerk Weg” yang berarti jalan menuju gereja, merujuk pada lokasinya yang dekat dengan Gereja Kotabaru.

Halaman Selanjutnya
img_title