Gigitan Ular Meningkat, Riset Antibisa Modern Jadi Harapan Indonesia
- Bing Image Creator
VIVA Jogja - Indonesia, dengan 376 spesies ular yang tercatat, menempati posisi ketiga terbanyak di dunia setelah Brasil dan India. Keanekaragaman ini membawa konsekuensi serius, risiko gigitan ular yang semakin tinggi. Hingga Oktober 2025, tercatat 8.721 kasus gigitan ular dengan 25 kematian. Angka tersebut menunjukkan tren peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya, sekaligus menegaskan bahwa gigitan ular juga harus mendapat perhatian serius.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengklasifikasikan gigitan ular sebagai neglected tropical disease. Secara global, setiap tahun diperkirakan terjadi 5,4 juta kasus dengan 81.000 hingga 138.000 kematian, serta lebih dari 400.000 korban yang mengalami kecacatan permanen.
Fakta ini menempatkan gigitan ular sebagai ancaman kesehatan masyarakat yang nyata, terutama di negara tropis seperti Indonesia.
Di tengah keterbatasan serum antibisa konvensional, muncul terobosan antibodi dari hewan llama dan alpaka. Antibodi yang dikenal sebagai nanobody ini berukuran lebih kecil dibanding antibodi manusia, sehingga lebih stabil dan efektif dalam menetralkan bisa ular. Penelitian internasional menunjukkan bahwa nanobody mampu bekerja terhadap 17 spesies ular berbisa, termasuk kobra, viper, dan mamba.
Donan Satria Yudha, dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, menilai inovasi ini membuka peluang besar bagi Indonesia. Menurutnya, penelitian antibodi llama dan alpaka membuktikan bahwa gigitan ular tidak lagi dianggap sebagai penyakit terabaikan, karena semakin banyak peneliti yang fokus mengembangkan antibisa dengan efektivitas tinggi.
Meski demikian, pengembangan serum antibisa di Indonesia masih terbatas. Hingga kini, Indonesia hanya memiliki satu jenis serum polivalen yang diproduksi oleh Bio Farma, dan serum tersebut belum mencakup seluruh spesies ular berbisa yang tersebar di Nusantara. Dalam tiga tahun terakhir, sejumlah lembaga seperti BRIN, Kementerian Kesehatan, dan perguruan tinggi mulai menginisiasi riset antibisa modern.
Tim Venom Research Group UGM telah menyelesaikan penelitian karakterisasi bisa ular kobra jawa (Naja sputatrix) dan berencana memperluas penelitian ke spesies lain seperti ular welang (Bungarus candidus) dan ular tanah (Calloselasma rhodostoma), yang dikenal sebagai penyebab kasus gigitan terbanyak di Jawa dan Sumatra.
Tantangan besar tetap ada. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki spesies ular berbisa yang berbeda di tiap wilayah, sehingga sulit membuat serum tunggal yang efektif di seluruh daerah. Selain itu, fasilitas snake farm di Indonesia belum memenuhi standar internasional, sehingga pasokan bisa ular untuk penelitian masih terbatas dan tidak konsisten.