PKBM Reksonegaran Jadi Model Pendidikan Nonformal di Era Digital
- Istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Reksonegaran kembali menjadi sorotan setelah dikunjungi Wakil Walikota Yogyakarta, Wawan Harmawan, beberapa waktu lalu. Dalam kunjungan itu, ia menegaskan bahwa pendidikan nonformal berbasis kebutuhan seperti yang dijalankan PKBM Reksonegaran merupakan tren masa depan yang mampu menjawab tantangan zaman.
Wawan menilai filosofi pembelajaran yang diterapkan PKBM sangat relevan dengan generasi muda saat ini. Menurutnya, belajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas formal, melainkan bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. “Anak-anak muda sekarang lebih utamanya, belajar itu tidak ada sekat, tidak ada batas, di mana pun kita bisa belajar,” ujarnya. Ia menambahkan, di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), lembaga pendidikan yang fleksibel seperti PKBM menjadi penting agar akses belajar terbuka bagi semua kalangan, termasuk mereka yang sempat putus sekolah atau membutuhkan jalur pendidikan alternatif.
Dalam kesempatan tersebut, Wawan juga mengapresiasi ragam prestasi siswa PKBM Reksonegaran. Tidak hanya unggul di bidang akademik, para siswa juga aktif dalam olahraga, seni, dan kegiatan ekstrakurikuler seperti taekwondo, panahan, catur, hingga musik. Namun, ia menekankan bahwa pencapaian akademik maupun nonakademik harus tetap dibarengi dengan pembentukan karakter. “Kalau sebagai anak muda tidak menghargai orang tua, itu masalah besar. Prestasi boleh saja tinggi, tetapi budi pekerti adalah yang paling utama,” tandasnya. Ia menilai hal ini krusial agar generasi penerus tetap berakar pada nilai budaya dan norma lokal meski hidup di tengah arus digitalisasi.
Kepala PKBM Reksonegaran, Sudarmaji, menjelaskan bahwa lembaga ini telah berproses sejak tahun 2005. Saat ini PKBM menampung 180 siswa dengan program pendidikan kesetaraan Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), dan Paket C (setara SMA). Selain itu, PKBM juga mengintegrasikan pengembangan karakter dan keterampilan hidup (life skills) seperti komputer dasar, kewirausahaan, public speaking, seni, olahraga, serta kegiatan sesuai minat siswa. “Kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan nonformal bukan sekadar alternatif, melainkan pilihan nyata yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat modern,” jelasnya.