Yogya ingin Inovasi berdampak Nyata
- Humas Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa inovasi pemerintahan tidak boleh berhenti pada pencapaian angka indeks semata, melainkan harus menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat. Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Inovasi Daerah Innovative Government Award (IGA) yang berlangsung di Khas Tugu Hotel, Jetis, Kamis (12/02/2026).
Menurut Hasto, keberhasilan inovasi bukan diukur dari tingginya skor penilaian, melainkan dari sejauh mana terobosan tersebut mampu mengubah sistem kerja dan memberi manfaat langsung. “Kalau indeks tinggi tapi tidak ada perubahan, tidak ada artinya. Fokus kita perubahan, indeks naik itu efek samping,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa Yogyakarta tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah, sehingga kekuatan utama terletak pada kreativitas sumber daya manusia. Aparatur pemerintah didorong untuk tidak sekadar menjalankan tugas administratif, tetapi berani berkarya dan menciptakan terobosan. Tantangan yang dihadapi kota saat ini, menurut Hasto, adalah fenomena growing old before growing rich atau menua sebelum kaya. Kondisi tersebut menuntut inovasi yang mampu memperkuat ekonomi lokal dan menjaga agar perputaran uang tetap berada di daerah.
Sebagai contoh, Hasto menyinggung program Warung Milik Rakyat (Wamira) yang dikembangkan di 45 kelurahan. Program ini bertujuan mengendalikan harga, memprioritaskan produk lokal, sekaligus menyalurkan bantuan secara lebih terarah. Ia juga mencontohkan inisiatif Batik Segoro Amarto Reborn yang melibatkan UMKM lokal melalui koperasi, sehingga produk batik khas Yogya tetap diproduksi dan dikonsumsi oleh warga sendiri. “Itu bagian dari bela beli produk sendiri, sekaligus menekan capital flight,” tandasnya.
Hasto menutup dengan pesan agar inovasi tidak berhenti pada dokumen atau penghargaan, melainkan benar-benar mengubah pola pikir dan sistem kerja birokrasi. “Mulai dari yang kecil, lihat peluang atau ciptakan peluang,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono, menambahkan bahwa kegiatan Bimtek ini merupakan komitmen Pemkot untuk memperkuat tata kelola inovasi daerah. Menurutnya, capaian IGA Kota Yogyakarta terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2024, Yogyakarta meraih predikat Kota Sangat Inovatif dengan nilai 62,38 melalui 44 inovasi. Setahun kemudian, nilainya naik menjadi 69,64 dengan 66 inovasi. “Capaian ini patut disyukuri, tetapi belum titik akhir. Untuk melompat menjadi kota terinovatif, perlu upaya yang lebih terstruktur, sistematis, dan kolaboratif,” jelasnya.