Yogya Perpanjang Status Siaga Hidrometeorologi

Yogya siaga darurat bencana cuaca ekstrem
Sumber :
  • Bing Image Creator

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta kembali memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Keputusan ini diambil setelah serangkaian peristiwa cuaca ekstrem terus melanda wilayah kota dalam beberapa bulan terakhir. Status yang semula berakhir pada Februari 2026 kini diperpanjang hingga akhir Maret 2026, sembari menunggu surat keputusan resmi dari kepala daerah.

img_title Inovasi Mas Jos Antar Pemkot Yogyakarta Raih ESG Now Awards 2026

Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Yogyakarta, Darmanto, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengajukan perpanjangan selama satu bulan. “Kami masih menunggu SK resmi. Harapannya bisa segera terbit minggu ini,” ujarnya.

Data BPBD menunjukkan, sepanjang Januari hingga Februari 2026, tercatat 98 insiden kebencanaan di Kota Yogyakarta. Mayoritas kejadian dipicu oleh hujan deras disertai angin kencang. Pohon tumbang, atap rumah rusak, hingga gangguan listrik menjadi dampak yang paling sering terjadi.

img_title Festival Layanan Publik, Ratusan Warga Antusias Manfaatkan Beragam Pelayanan

Salah satu insiden terbaru menimpa warga Kelurahan Notoprajan, Kemantren Ngampilan. Sebuah pohon flamboyan berukuran besar roboh dan menimpa rumah penduduk pada Minggu siang (08/03/2026). Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, mengonfirmasi bahwa pohon dengan tinggi sekitar 15 meter dan diameter 2 meter itu tumbang akibat hujan deras yang disertai angin kencang.

Bangunan rumah yang tertimpa mengalami kerusakan pada atap joglo berukuran 6 x 3 meter serta kamar tidur berukuran 4 x 5 meter. Selain itu, dahan pohon juga mengenai kabel listrik di sekitar lokasi, menimbulkan kekhawatiran akan korsleting. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD segera melakukan evakuasi dan pemotongan batang pohon. “Saat ini kondisi sudah terkendali,” tambah Nur Hidayat.

img_title Kelurahan Pakualaman Jadi Percontohan KKMP, Pemkot Yogya Dorong Koperasi Mandiri dan Produktif

Potensi Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut

Tidak hanya di tingkat kota, BPBD DIY juga menegaskan bahwa ancaman cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam waktu dekat. Kepala Pelaksana BPBD DIY, Ruruh Haryanta, menyebut perpanjangan status siaga darurat kemungkinan akan diberlakukan hingga pertengahan April 2026.

Menurutnya, meski puncak musim hujan telah berlangsung pada Januari dan Februari, ancaman hujan lebat serta angin kencang belum sepenuhnya mereda. “Siaga darurat terakhir berlaku sampai 19 Maret. Kemungkinan besar akan diperpanjang hingga 19 April, setelah itu situasi diperkirakan mulai melandai,” jelas Ruruh.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas, menambahkan bahwa sebagian besar wilayah DIY memang sudah melewati puncak musim hujan pada Januari 2026. Namun, beberapa daerah baru mengalami puncak hujan pada Februari.

Reni menjelaskan, curah hujan pada dasarian pertama Maret 2026 masih tergolong menengah, dengan intensitas 50–150 mm per sepuluh hari. Kondisi ini memungkinkan terjadinya hujan dengan intensitas rendah hingga sedang setiap harinya. “Monsun Asia atau angin baratan masih aktif bertiup ke wilayah Indonesia, sehingga potensi hujan tetap ada,” terangnya.

Perpanjangan status siaga darurat hidrometeorologi di Kota Yogyakarta menjadi langkah antisipatif menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang belum sepenuhnya reda. Dengan catatan insiden kebencanaan yang cukup tinggi dalam dua bulan terakhir, pemerintah daerah bersama BPBD berupaya memastikan kesiapsiagaan masyarakat tetap terjaga.

Meski analisis BMKG menunjukkan intensitas hujan mulai menurun, faktor angin kencang dan kondisi atmosfer masih berpotensi menimbulkan bencana. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada, terutama terhadap kemungkinan pohon tumbang, banjir lokal, maupun gangguan listrik akibat cuaca ekstrem.