Borobudur hingga TMII Siap Sambut Wisatawan Lebaran 2026
- jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, InJourney melalui InJourney Destination Management (IDM) menyiapkan berbagai langkah strategis untuk mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat selama periode libur Lebaran 2026. Perusahaan memprediksi pergerakan masyarakat pada musim mudik dan libur Idulfitri tahun ini akan meningkat signifikan, seiring tingginya aktivitas perjalanan di berbagai daerah.
Berdasarkan data mobilitas nasional, diperkirakan terdapat sekitar 143,9 juta pergerakan orang selama periode Lebaran. Jawa Tengah diproyeksikan menjadi tujuan perjalanan terbanyak dengan sekitar 17,7 juta perjalanan, sementara Daerah Istimewa Yogyakarta menempati posisi keempat dengan sekitar 8,3 juta perjalanan.
Senior Vice President Corporate Secretary InJourney, Yudhistira Setiawan, dalam Press Conference Masa Ramai Lebaran di Taman Wisata Candi, Kamis (12/03/2026) di timur Lapangan Brahma, Candi Prambanan. mengatakan periode arus mudik dan wisata diperkirakan berlangsung cukup panjang, yakni mulai 13 Maret hingga 30 Maret 2026.
“Puncak arus mudik diprediksi terjadi pada 17–18 Maret, sementara arus balik diperkirakan mencapai puncaknya pada 28–30 Maret,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Komersial InJourney Destination Management, Gistang Richard Panutur, menjelaskan bahwa karakter kunjungan wisata di destinasi yang dikelola InJourney memiliki pola berbeda dibanding arus mudik.
Menurutnya, lonjakan wisatawan biasanya mulai terasa pada H+1 Lebaran hingga akhir periode libur pada 29 Maret. Oleh karena itu, perusahaan memprioritaskan kesiapan layanan pada periode tersebut agar pengalaman wisata tetap aman dan nyaman.
“InJourney memproyeksikan kenaikan jumlah pengunjung minimal lima persen dibandingkan periode Lebaran tahun sebelumnya,” kata Gistang.
Transformasi Destinasi Wisata
Selain menyiapkan operasional selama masa liburan, InJourney juga terus melakukan transformasi sejumlah destinasi wisata unggulan yang dikelolanya.
Candi Borobudur diarahkan menjadi spiritual heritage destination kelas dunia, terutama menjelang momentum perayaan Waisak yang diperkirakan akan menarik ribuan pengunjung dari dalam maupun luar negeri.
Sementara Candi Prambanan dikembangkan sebagai living cultural destination dengan berbagai festival dan pertunjukan seni. Salah satu agenda rutin yang terus menarik perhatian wisatawan adalah Prambanan Jazz Festival.
Adapun Ratu Boko difokuskan sebagai experimental heritage destination yang menonjolkan keindahan lanskap alam, termasuk panorama matahari terbenam yang menjadi salah satu daya tarik utama kawasan tersebut.