Tragedi Bantargebang, Alarm Perubahan Sistem Pengelolaan Sampah
- DOK UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Longsornya gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang pada 8 Maret lalu, yang menelan tujuh korban jiwa, kembali menjadi peringatan keras atas rapuhnya sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Peristiwa ini menegaskan bahwa persoalan sampah bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga menyangkut keselamatan manusia. Penumpukan sampah dalam skala besar di tempat pembuangan akhir menyimpan risiko tinggi bila tidak dikelola dengan sistem yang memadai.
Guru Besar Program Studi Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada sekaligus pemerhati lingkungan, Prof Ir Wiratni, menilai akar persoalan terletak pada cara pandang terhadap sampah. Menurutnya, praktik yang berjalan selama ini masih berorientasi pada pembuangan, bukan pengolahan. Akibatnya, volume sampah terus menumpuk tanpa proses pengurangan yang memadai. “Akar permasalahannya itu sebetulnya karena pengelolaan sampah masih dianggap pembuangan, bukan upaya pengolahan,” ujarnya, Kamis (12/03/2026).
Wiratni menjelaskan, dalam sistem modern, landfill memang tetap diperlukan, tetapi hanya sebagai tahapan terakhir setelah berbagai proses pengolahan dilakukan. Pemilahan di sumber, composting untuk sampah organik, hingga proses termal bagi material anorganik seharusnya menjadi langkah utama. Dengan sistem tersebut, hanya residu kecil yang akhirnya masuk ke landfill. Sayangnya, praktik di banyak daerah masih jauh dari standar. Penimbunan sampah dilakukan tanpa memperhatikan desain landfill yang aman, seperti pengaturan kemiringan lereng, batas ketinggian tumpukan, dan sistem pengelolaan air lindi. “Yang terjadi di Indonesia justru landfill itu hanya dimanfaatkan untuk menumpuk sampah tanpa memerhatikan standar yang seharusnya,” tuturnya.
Ia menambahkan, persoalan sampah sering kali dianggap sekadar masalah teknologi, padahal akar masalah justru berkaitan dengan perilaku masyarakat. Tanpa perubahan perilaku, teknologi pengolahan sampah sulit memberikan dampak nyata. Karena itu, integrasi antara teknologi dan rekayasa sosial menjadi kunci keberhasilan. “Masalah sampah ini berlarut-larut karena perilaku masyarakat yang belum mau berubah,” tegasnya.
Dalam konteks pencegahan bencana serupa, perguruan tinggi disebut memiliki peran penting sebagai ruang uji coba inovasi. Kampus dapat menjadi laboratorium hidup yang mengintegrasikan teknologi dengan pendekatan sosial. UGM, misalnya, melalui Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) di Berbah, Sleman, mengolah 8–10 ton sampah dari kampus dan pemukiman sekitar. Sistem tersebut memadukan pengolahan sampah dengan pendekatan sosial untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat. Produk hasil olahan seperti kompos, maggot, dan material bangunan dihubungkan dengan berbagai inovasi lain sehingga memiliki nilai guna.