Pemkot Jogja Prioritaskan Anggaran untuk Program Rakyat, Perjalanan Dinas Dipangkas
- Humas Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemerintah Kota Yogyakarta mulai melakukan penyesuaian kebijakan anggaran dengan menitikberatkan pada program-program yang berdampak langsung bagi masyarakat. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memangkas anggaran perjalanan dinas dan mengalihkannya untuk mendukung kegiatan yang menyentuh kebutuhan warga secara nyata, baik di sektor ekonomi, budaya, maupun pembangunan infrastruktur kota.
Kebijakan tersebut disampaikan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, dalam pertemuan bersama forum perwakilan masyarakat yang berlangsung di Ruang Yudistira, Kompleks Balai Kota Yogyakarta, pada Senin, 13 April 2026. Dalam kesempatan itu, Hasto menegaskan bahwa langkah efisiensi anggaran ini merupakan bagian dari tindak lanjut arahan pemerintah pusat yang mendorong pemerintah daerah untuk lebih selektif dalam penggunaan anggaran, khususnya pada pos perjalanan dinas.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah pusat melalui Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, telah memberikan instruksi kepada seluruh kepala daerah untuk mengurangi belanja perjalanan dinas secara signifikan. Pengurangan tersebut mencakup perjalanan dinas dalam negeri yang diminta dipangkas hingga setengahnya, serta perjalanan dinas luar negeri yang harus ditekan hingga 70 persen. Arahan tersebut juga tertuang dalam Surat Edaran terkait transformasi budaya kerja aparatur sipil negara di lingkungan pemerintah daerah.
Menurut Hasto, kebijakan ini menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Yogyakarta untuk mengarahkan kembali penggunaan anggaran agar lebih tepat sasaran. Dana yang sebelumnya digunakan untuk perjalanan dinas kini difokuskan pada program-program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, sekaligus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Pengalihan anggaran tersebut dibagi ke dalam dua fokus utama, yakni program non infrastruktur dan infrastruktur. Untuk sektor non infrastruktur, pemerintah kota akan memperkuat berbagai kegiatan berbasis ekonomi kerakyatan, pariwisata, serta pelestarian budaya. Sejumlah agenda yang selama ini telah menjadi daya tarik publik akan terus didorong dan dikembangkan agar mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Berbagai kegiatan seperti Gebyar UMKM, Wayang Jogja Night Carnival, Jogja Great Sale, Ruwahan Agung, Festival Hadroh, hingga Sarkem Fest diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Event-event tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan atau atraksi wisata, tetapi juga menjadi ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk memperluas pasar serta meningkatkan pendapatan.