Meneguhkan Kedaulatan Lewat Intelektualitas yang Berpijak
- Dok Pemda DIY
SLEMAN, VIVA Jogja - Simposium Nasional Hari Penegakan Kedaulatan Negara resmi dibuka oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, bersama Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi. Acara yang berlangsung hingga 17 April ini mengangkat tema “Intelektual Muda & Pemecahan Masalah Kedaulatan”, sebuah topik yang menekankan peran generasi muda dalam menjaga dan menafsirkan kembali makna kedaulatan di era kontemporer.
Dalam sambutan yang dibacakan, Gubernur DIY menekankan bahwa perjuangan mempertahankan kedaulatan tidak lagi terjadi di medan perang fisik seperti masa lalu, melainkan bergeser ke ranah digital, laboratorium penelitian, serta ruang wacana publik. Ia menegaskan bahwa intelektualitas yang berakar pada nilai-nilai bangsa menjadi kunci dalam menghadapi tantangan global. Pikiran boleh menjelajah dunia, tetapi pijakan harus tetap kuat pada jati diri Indonesia.
Hari Penegakan Kedaulatan Negara, menurut Sri Paduka, bukan sekadar peringatan atas peristiwa heroik Serangan Umum 1 Maret 1949. Lebih dari itu, hari ini adalah pengingat bahwa kedaulatan adalah hasil ikhtiar bersama yang harus terus diperjuangkan lintas generasi. Ia berharap forum ini melahirkan gagasan segar yang mampu menguatkan Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat dalam politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Dian Lakshmi Pratiwi menambahkan bahwa Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Keberhasilan tersebut membuka mata dunia bahwa Indonesia layak berdiri sebagai negara merdeka. Setelah melalui proses panjang, peristiwa ini akhirnya ditetapkan sebagai hari besar nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 2 Tahun 2022. Dengan dasar itu, Pemda DIY mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk aktif memperingati dan memaknai kembali arti kedaulatan melalui simposium ini.
Simposium diikuti oleh mahasiswa dan pemangku kepentingan dari berbagai daerah. Dian berharap generasi muda dapat menafsirkan penegakan kedaulatan secara ilmiah, dengan pendekatan multidisipliner yang mencakup sosial-budaya, ekonomi, hingga politik-hukum. Sebelum acara berlangsung, telah dilakukan proses seleksi melalui call for paper yang melibatkan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Dari ratusan pendaftar, 31 mahasiswa terpilih untuk mempresentasikan karya mereka, mencerminkan keragaman perspektif yang memperkaya diskusi.