Warung Kopi Merapi Jadi Role Model UMKM Sleman, Ini Rahasianya
- ist
SLEMAN, VIVA Jogja — Warung Kopi Merapi menjelma menjadi wajah baru UMKM Sleman yang tak sekadar menjual produk, tetapi juga pengalaman, di tengah dorongan pemerintah memperkuat sektor ekonomi rakyat.
Pemerintah Kabupaten Sleman terus mendorong penguatan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi daerah dengan fokus pada legalitas, kualitas, dan daya saing.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sleman, Sutiasih, menyebut lebih dari 10.000 UMKM telah terdata, namun kini sedang dilakukan pembaruan agar hanya usaha aktif yang tercatat.
“Data UMKM sedang kami update, yang tidak aktif akan kami hapus agar intervensi program lebih tepat sasaran,” ujar Sutiasih.
Dominasi sektor makanan dan minuman menjadi ciri khas UMKM Sleman, didorong status wilayah sebagai destinasi wisata dan kota pelajar dengan mobilitas tinggi.
“Permintaan makanan tinggi karena Sleman itu daerah wisata dan banyak mahasiswa,” jelasnya.
Di tengah persaingan, Warung Kopi Merapi muncul sebagai contoh UMKM yang berhasil naik kelas dengan memadukan legalitas usaha, kualitas produk, dan daya tarik wisata.
Sutiasih menegaskan, indikator keberhasilan UMKM tidak lagi sekadar jumlah pelanggan, melainkan kelengkapan legalitas seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), kualitas produk, hingga strategi pemasaran.
“Legalitas itu dasar, lalu kualitas produk harus higienis, menarik, dan sesuai selera pasar,” katanya.
Tak berhenti di produk, Warung Kopi Merapi juga menawarkan pengalaman berbeda dengan menghadirkan edukasi proses kopi dari kebun hingga penyajian.
Pengunjung tidak hanya menikmati kopi, tetapi juga merasakan suasana lereng Merapi yang sejuk dengan panorama alam yang kuat sebagai daya tarik wisata.
“Ini bukan sekadar tempat ngopi, tapi pengalaman yang tidak semua tempat punya,” imbuh Sutiasih.
Untuk memperluas pasar, pemerintah daerah aktif memfasilitasi UMKM melalui pameran dan event, termasuk promosi khusus kopi Merapi ke tingkat nasional.
Strategi ini diarahkan agar UMKM Sleman mampu menembus pasar lebih luas, bahkan hingga internasional.
Sutiasih menegaskan, setiap pelaku usaha harus memiliki keunggulan yang jelas agar mampu bersaing di pasar terbuka.
“Harus punya ciri khas, entah dari produk, pelayanan, atau lokasi,” tegasnya.