Minyak Atsiri Dlingo Jadi Sumber Ekonomi Baru Warga
- Dok Pemkab Bantul
BANTUL, VIVA Jogja - Dusun Kebonsungu I di Kapanewon Dlingo, Bantul, kini dikenal sebagai salah satu kawasan pengembangan minyak atsiri yang berhasil mengubah lahan marginal menjadi sumber penghidupan baru. Inisiatif ini lahir dari gagasan memanfaatkan lahan kritis yang sebelumnya sulit ditanami palawija, lalu dialihkan untuk budidaya tanaman atsiri seperti sereh wangi dan kayu putih yang lebih adaptif terhadap kondisi tanah berbatu.
Sunaryanto, inisiator UMKM Shafaluna, menjelaskan bahwa ide tersebut muncul dari kebutuhan warga untuk mencari alternatif pertanian yang lebih sesuai dengan karakter lahan. Sejak dirintis pada 2017, program ini berkembang pesat. Berawal dari tujuh hektar lahan, kini sudah melibatkan 472 petani yang bergabung dalam kemitraan dengan UMKM Shafaluna. Sereh wangi menjadi komoditas unggulan karena produktivitasnya tinggi dan perawatannya relatif mudah. Sekali tanam, tanaman ini bisa dipanen berkali-kali, dengan panen pertama pada bulan keenam dan berikutnya setiap 32 hingga 38 hari. Pola ini memberi peluang peningkatan pendapatan yang signifikan bagi petani.
Keberhasilan budidaya tidak berhenti pada tahap produksi. UMKM Shafaluna telah membangun fasilitas penyulingan sendiri untuk mengolah hasil panen menjadi minyak atsiri. Dari 100 kilogram daun sereh wangi, dapat dihasilkan 400 hingga 700 mililiter minyak atsiri. Produk ini kemudian dikembangkan menjadi berbagai turunan seperti sabun mandi, lilin aromaterapi, dan produk berbasis minyak atsiri lainnya. Legalitas produk pun sudah terjamin karena terdaftar di BPOM, sehingga aman digunakan masyarakat dan memiliki daya saing di pasar.
Pengembangan minyak atsiri di Dlingo tidak hanya memberi dampak ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian tanaman herbal yang mulai jarang dibudidayakan. Dengan memanfaatkan lahan kritis, warga tidak hanya memperoleh tambahan penghasilan, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan. Sistem ini memperkuat ketahanan ekonomi berbasis potensi lokal sekaligus mendukung pengelolaan lahan secara berkelanjutan.
Lebih jauh, program ini membuka peluang kolaborasi lintas sektor. Dukungan dari pemerintah, akademisi, dan swasta diharapkan semakin memperkuat ekosistem pengembangan atsiri. Sunaryanto menegaskan bahwa dengan dukungan dan kolaborasi yang kuat, pengembangan atsiri bisa menjadi salah satu pilar ekonomi masyarakat di masa depan.