11 Bayi Dievakuasi dari sebuah rumah di Pakem Sleman

Ilustrasi 11 bayi diamankan sebuah rumah di Pakem Sleman
Sumber :
  • Bing Image Creator

 

img_title Investasi Preventif Pemkab Sleman untuk Generasi Masa Depan

SLEMAN, VIVA Jogja - Aparat gabungan dari Polsek Pakem, pemerintah kelurahan, hingga Dinas Sosial Sleman Dusun Wonokerso, mendatangi sebuah rumah di Padukuhan Randu, Kelurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem Sleman pada Jumat pagi, 8 Mei 2026 lalu, paska menerima laporan warga tentang aktivitas mencurigakan di sebuah rumah kosong. Di dalam rumah itu, belasan bayi ditemukan, sebagian dalam kondisi sehat, sebagian lainnya menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.

Evakuasi berlangsung penuh ketegangan. Sebelas bayi, delapan laki-laki dan tiga perempuan, ditemukan terbaring di atas kasur tipis maupun tebal. Beberapa di antaranya tampak sehat, namun tiga bayi menunjukkan tanda-tanda kurang sehat, mulai dari kulit berwarna kuning hingga indikasi kelainan jantung. Pemeriksaan awal dilakukan oleh petugas Puskesmas, sementara aparat kepolisian dan pemerintah setempat memastikan langkah penyelamatan segera dilakukan.

img_title Aktivitas Gunung Merapi Masih Tinggi, BPPTKG Catat Puluhan Guguran Lava dalam Tiga Hari Terakhir

Lurah Hargobinangun, Amin Sarjito, menjelaskan bahwa rumah tersebut diduga milik orangtua seorang bidan asal Gamping. Rumah itu sebelumnya tidak ditempati, namun belakangan digunakan sebagai tempat penampungan sementara bayi. “Itu bukan penitipan balita resmi. Ada bidan dari Gamping yang menampung bayi-bayi, mungkin karena kliniknya penuh lalu dibawa ke wilayah kami,” ujar Amin.

Kisah ini semakin rumit ketika informasi tambahan muncul dari Dinas Pendidikan Sleman. Kepala dinas, Mustadi, menyebut bahwa bayi-bayi tersebut diduga merupakan titipan sejumlah ibu muda, sebagian besar masih berstatus mahasiswa. Mereka menitipkan anak kepada bidan karena merasa belum siap mengasuh sendiri. Praktik ini disebut sudah berlangsung cukup lama, dengan biaya pengasuhan ditanggung oleh para orang tua bayi, termasuk kebutuhan susu dan popok.

img_title Sleman Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan

Awalnya, pengasuhan dilakukan di Banyuraden, Gamping. Namun sekitar sepuluh hari terakhir, aktivitas itu dipindahkan ke rumah di Hargobinangun. Malam sebelum evakuasi, warga melihat banyak bayi di rumah tersebut saat ada acara slametan keluarga. Kecurigaan pun muncul, laporan diteruskan ke lurah dan panewu, hingga akhirnya aparat gabungan turun tangan.

Mustadi menambahkan, pengasuhan bayi itu sebenarnya dilakukan oleh orangtua sang bidan bersama dua pengasuh lainnya. “Dengan landasan hati nurani, bayi-bayi itu diasuh. Tapi sebenarnya yang mengasuh adalah orangtua bidan, total ada tiga orang pengasuh,” jelasnya. Ia juga menegaskan bahwa lokasi tersebut tidak memiliki izin resmi sebagai lembaga pengasuhan anak atau daycare. “Kalau daycare resmi masuk ranah pendidikan, ada izin. Nah, di sini tidak ada izin, perjanjiannya pun tidak jelas,” katanya.

Halaman Selanjutnya
img_title