Asal Usul Tradisi Ekstrim Perang Obor Desa Tegalsambi
- Vivajogja
VIVAJogja – JEPARA, Ratusan tahun silam, di kaki utara Pegunungan Muria, berdirilah sebuah desa kecil bernama Tegalsambi. Desa itu dikelilingi hamparan sawah, sungai jernih, dan hutan lebat dan lautan yang dipercaya masyarakat sebagai tempat bersemayamnya para penjaga alam.
Warga Tegalsambi hidup sederhana. Pagi hari mereka turun ke sawah dan ladang, sementara malamnya diisi dengan suara gamelan bambu, obrolan hangat di gardu desa, dan lantunan doa dari surau kecil di tengah kampung.
Namun ketenteraman itu perlahan berubah menjadi ketakutan.
Musim kemarau datang lebih panjang dari biasanya. Sungai mulai mengering. Sawah retak-retak. Tanaman padi mati sebelum panen. Tidak hanya itu, wabah misterius mulai menyerang ternak warga (26/05).
Sapi dan kerbau jatuh sakit satu per satu.
Tubuhnya lemas, tak mau makan, dan beberapa mati mendadak.
Warga percaya ada sesuatu yang tidak beres di desa mereka.
Malam-malam di Tegalsambi berubah mencekam. Kabut turun lebih cepat, sementara suara-suara aneh kerap terdengar dari arah perempatan desa dan pinggir sungai.
Di tengah situasi itu, hiduplah dua tokoh yang sangat dihormati masyarakat: Kiai Babadan dan Ki Gemblong.
Kiai Babadan dikenal sebagai sosok bijaksana yang memiliki banyak ternak sapi dan kerbau. Sementara Ki Gemblong merupakan sahabat dekatnya yang dipercaya merawat ternak-ternak tersebut.
Suatu hari, Kiai Babadan mendapati hampir seluruh ternaknya jatuh sakit.
Ia kebingungan dan mulai mencari penyebabnya.
Namun kemarahan Kiai Babadan memuncak ketika ia melihat Ki Gemblong justru sedang duduk santai memancing ikan di pinggir sungai.
“Kau biarkan ternakku sakit seperti ini?” bentak Kiai Babadan.
Ki Gemblong mencoba menjelaskan bahwa dirinya sudah merawat ternak itu semampunya. Namun emosi Kiai Babadan sudah tak terbendung.
Pertengkaran pun pecah.
Hari mulai gelap ketika keduanya saling dorong dan berteriak di dekat kandang ternak. Warga yang mendengar keributan segera berdatangan untuk melerai.
Namun suasana semakin panas.
Dalam gelap malam, Kiai Babadan mengambil obor dari pelepah kelapa kering yang biasa digunakan penerangan warga. Ki Gemblong melakukan hal yang sama.