Desa Wisata Jadi Masa Depan Pariwisata Sleman, Ini Strateginya

DPRD dan Dinas Pariwisata Sleman Edy Winarya
Sumber :
  • Viva Jogja

SLEMAN, VIVA Jogja – Pariwisata berbasis masyarakat menjadi arah utama pengembangan wisata Sleman. Pemerintah Kabupaten Sleman menilai keterlibatan warga merupakan kunci menciptakan destinasi yang berkelanjutan dan berdampak langsung pada perekonomian masyarakat.

img_title Aktivitas Gunung Merapi Masih Tinggi, BPPTKG Catat Puluhan Guguran Lava dalam Tiga Hari Terakhir

Pengembangan wisata Sleman kini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik. Pemerintah juga mendorong penguatan kelembagaan, sumber daya manusia, hingga pemasaran digital agar destinasi mampu bersaing di tengah ketatnya persaingan industri pariwisata.

"Kalau ingin membangun tempat wisata atau rekreasi, yang pertama harus dikuatkan dulu niat dan tekad pengelolanya. Kemudian kelembagaannya harus jelas," kata Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman, Edy Winarya.

img_title Sleman Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan

Menurut Edy, keberhasilan destinasi wisata sangat ditentukan oleh komitmen pengelolanya. Selain itu, dukungan masyarakat menjadi fondasi penting agar pengembangan wisata dapat berjalan dalam jangka panjang.

Ia menjelaskan konsep pengembangan pariwisata di Sleman saat ini mengacu pada community based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat. Pendekatan tersebut diwujudkan melalui pengembangan desa wisata yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama.

img_title PDAM Sleman Pastikan Pasokan Air Tetap Aman di Tengah Ancaman Kekeringan Musim Kemarau

"Kalau didukung masyarakat, destinasi wisata akan lebih tahan lama. Dalam konsep desa wisata, keterlibatan masyarakat harus lebih dominan," ujarnya.

Melalui konsep tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penonton. Warga terlibat langsung dalam pengelolaan destinasi, penyediaan homestay, pengembangan produk wisata, hingga pelayanan kepada wisatawan.

Untuk memperkuat kapasitas pelaku wisata, Dispar Sleman menjalankan berbagai program pembinaan. Program tersebut meliputi pelatihan pelayanan wisata, sertifikasi kompetensi, pemasaran digital, hingga penyusunan paket wisata.

Pemerintah juga menggandeng biro perjalanan wisata. Kolaborasi ini dilakukan agar desa wisata memiliki akses pasar yang lebih luas dan mampu menarik kunjungan wisatawan secara berkelanjutan.

Meski demikian, pengembangan wisata berbasis masyarakat masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki komitmen kuat untuk menggerakkan destinasi.

"Membangun destinasi wisata berbasis masyarakat tidak bisa instan. Dalam satu tahun belum tentu hasilnya terlihat. Yang sulit justru menemukan orang-orang yang militan untuk menggerakkannya," kata Edy.

Selain tantangan SDM, persaingan antar destinasi wisata juga semakin ketat. Karena itu inovasi menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar.

Halaman Selanjutnya
img_title