DPRD Kulonprogo Sesalkan Gedung Baru SD Bugel Sudah Rusak, Hambat Akses Pendidikan
- Dok DPRD Kulonprogo
KULONPROGO, VIVA Jogja - Kondisi bangunan baru SD Bugel Panjatan, Kulonprogo, yang selesai dibangun pada akhir 2025 melalui relokasi akibat proyek Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), kini menjadi sorotan tajam. Gedung yang menelan anggaran sekitar Rp 3 miliar dari APBD tersebut, dinilai tidak memenuhi standar kualitas, bahkan sudah menunjukkan kerusakan meski baru beberapa bulan digunakan. Situasi ini menimbulkan keprihatinan mendalam dari kalangan legislatif, khususnya DPRD Kulonprogo, yang menilai kualitas pekerjaan tidak sebanding dengan besarnya anggaran yang digelontorkan.
Ketua Komisi IV DPRD Kulonprogo, Edi Priyono, menyampaikan bahwa hasil peninjauan langsung di lokasi menunjukkan banyak kekurangan yang berpotensi mengganggu kenyamanan dan keamanan kegiatan belajar mengajar. Ia menyoroti bagian atap yang bergelombang, diduga akibat penggunaan material kayu yang tidak sesuai standar atau pemasangan konstruksi yang asal-asalan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar, terutama ketika musim hujan tiba, karena genteng yang dipasang tidak rapi dan rawan bocor.
Selain itu, kualitas pintu dan pengunci ruangan juga menjadi masalah serius. Beberapa kali siswa dilaporkan terkunci di kamar mandi maupun ruang kelas, sehingga menimbulkan rasa takut dan ketidaknyamanan. Edi menegaskan bahwa hal ini jelas mengganggu proses belajar mengajar dan tidak seharusnya terjadi pada bangunan baru. Ia juga menyoroti kondisi tembok dan lantai yang terlihat asal-asalan, dengan tegel yang sudah jebol dan dinding penuh retakan kecil. Menurutnya, jika dibandingkan dengan gedung lama yang dibongkar akibat JJLS, kualitas bangunan baru justru lebih rendah dan memberi kesan seperti bangunan lawas.
Kekhawatiran semakin besar karena masa pemeliharaan proyek hanya berlaku hingga akhir Juni 2026. Jika berbagai kerusakan tidak segera diperbaiki, pihak sekolah akan kesulitan mengajukan komplain kepada kontraktor pelaksana. Edi menekankan bahwa fokus utama DPRD adalah memastikan keselamatan dan kenyamanan siswa, meski pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk menentukan sanksi bagi kontraktor. Ia menyesalkan penggunaan anggaran besar yang seharusnya meningkatkan kualitas pendidikan, justru menimbulkan keresahan bagi peserta didik.
Sementara, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kulonprogo, Pancar Topo Driyo, turut menyoroti hasil pembangunan yang dinilai jauh dari harapan. Ia menyebut plafon tampak tidak rata, pengecatan dinding tidak merata, serta terdapat retakan kecil pada beberapa bagian tembok. Dari sisi estetika, bangunan juga dinilai kurang serasi karena pintu menggunakan material kayu sementara jendela dan jalusi menggunakan aluminium. Ketidaksesuaian ini menimbulkan kesan kurang rapi dan mengurangi keindahan bangunan secara keseluruhan.