Optimisme Kerja Menurun, Ketidakpastian Ekonomi Jadi Sorotan

Prof Dr Imamudin Yuliadi
Sumber :
  • Dok Humas UMY

img_title Tukang Mebel Makin Sulit Dicari, Jepara Mulai Moving to CNC Technology

 

BANTUL, VIVA Jogja - Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) yang telah dirilis pada Rabu (08/07/2026) lalu, menunjukkan adanya penurunan optimisme masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja pada Juni 2026. Meski indeks masih berada dalam zona optimistis, tren penurunan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian publik dalam memandang prospek ekonomi di tengah ketidakpastian global dan dinamika ekonomi nasional. Fenomena tersebut menjadi perhatian serius karena persepsi masyarakat terhadap peluang kerja erat kaitannya dengan kondisi psikologis dan kepercayaan terhadap arah perekonomian.

img_title UMKM Kuliner Jogja Didorong Masuk Ritel Modern dan Pasar Ekspor Lewat Kurasi Produk

Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof Dr Imamudin Yuliadi, menilai penurunan optimisme lebih banyak menggambarkan persepsi masyarakat ketimbang kondisi riil pasar tenaga kerja. Menurutnya, persepsi itu terbentuk dari sejumlah faktor, mulai dari perlambatan aktivitas dunia usaha, meningkatnya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga situasi ekonomi dan politik yang memengaruhi keyakinan masyarakat terhadap peluang memperoleh pekerjaan. Ia menekankan bahwa masyarakat masih cenderung memaknai lapangan kerja sebagai pekerjaan formal, sementara pertumbuhan kesempatan kerja formal belum mampu mengimbangi jumlah pencari kerja yang terus meningkat.

Prof Imam menjelaskan bahwa perlambatan di sejumlah sektor usaha memperkuat anggapan bahwa memperoleh pekerjaan kini semakin sulit. Survei BI, katanya, pada dasarnya mencerminkan kondisi psikologis masyarakat yang melihat adanya penutupan usaha atau pengurangan tenaga kerja. Hal ini membuat ekspektasi terhadap peluang kerja menjadi lebih rendah. Ketidakpastian ekonomi global akibat konflik geopolitik, kenaikan harga energi, tekanan inflasi, serta pelemahan nilai tukar rupiah turut membentuk persepsi tersebut. Dinamika politik nasional juga memberikan sinyal yang kurang baik sehingga secara psikologis memengaruhi cara masyarakat memandang prospek lapangan kerja.

img_title Mahasiswa UMY Luncurkan ReStitch, Inovasi Fashion Sirkular Jawab Darurat Limbah Tekstil

Fenomena PHK di berbagai sektor semakin memperkuat kekhawatiran publik. Ketika perusahaan yang sudah beroperasi justru mengurangi jumlah tenaga kerja akibat tekanan ekonomi, masyarakat menjadi ragu terhadap kemampuan dunia usaha membuka rekrutmen baru. Menurut Prof. Imam, hal ini menimbulkan pertanyaan besar di benak pencari kerja: jika perusahaan yang mapan saja melakukan pengurangan tenaga kerja, bagaimana peluang bagi mereka yang baru memasuki pasar kerja. Kondisi ini membuat optimisme terhadap lapangan kerja menurun meski peluang sebenarnya masih ada.

Halaman Selanjutnya
img_title