Sepertiga Remaja Indonesia Hadapi Gangguan Mental
- Istimewa
Rahmat juga menyoroti peran orang tua dalam mendeteksi tanda awal gangguan mental. Menurutnya, orang tua perlu membedakan antara memberi ruang bagi anak untuk memproses emosinya dengan sikap membiarkan atau mengabaikan. Kehadiran orang tua yang tepat adalah memberikan ruang sekaligus menunjukkan kesiapan untuk mendukung kapan pun anak membutuhkan. Ia menekankan pentingnya mengenali perubahan perilaku yang drastis, seperti anak mengurung diri berhari-hari, kehilangan minat beraktivitas, atau menunjukkan gejala depresi. Kondisi tersebut harus segera direspons dengan komunikasi hangat atau bantuan profesional.
Selain keluarga, rendahnya literasi kesehatan mental di masyarakat juga menjadi tantangan. Meski dalam beberapa tahun terakhir pemahaman masyarakat mulai meningkat, banyak kasus masih tidak terdeteksi sejak dini. Rahmat menilai peningkatan literasi harus diikuti dengan sistem pendukung yang mudah diakses. Di lingkungan kampus, misalnya, mahasiswa perlu mengetahui layanan yang tersedia ketika menghadapi tekanan psikologis. UGM sendiri telah menyediakan Unit Layanan Kesehatan Mental (ULKM), Mental Health Emergency Response Lines, serta program pendampingan lain untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman dan suportif.
Rahmat juga menekankan pentingnya skrining kesehatan mental di sekolah maupun perguruan tinggi. Namun, ia mengingatkan bahwa skrining tidak cukup jika tidak disertai tindak lanjut. Skrining hanya berfungsi sebagai langkah awal untuk mengenali individu yang membutuhkan bantuan. Tanpa sistem pendampingan, hasil skrining tidak akan memberikan manfaat optimal. Di UGM, setiap hasil skrining ditindaklanjuti melalui pemantauan dan pendampingan oleh tenaga profesional sehingga mahasiswa memperoleh bantuan berkelanjutan sesuai kebutuhan.
Di akhir pernyataannya, Rahmat berpesan agar remaja tidak merasa malu atau takut ketika mengalami gangguan kesehatan mental. Menurutnya, meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan keberanian untuk menghadapi kenyataan dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang. Dengan dukungan yang tepat serta kemauan untuk mencari pertolongan, pengalaman menghadapi gangguan kesehatan mental justru dapat menjadi proses pembelajaran yang membentuk individu lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan kehidupan. “Masalah kesehatan mental yang diatasi dengan baik akan menjadi proses pertumbuhan pribadi menuju sosok yang matang, secara psikologis mampu, dan siap menjalankan peran kehidupan,” pungkasnya.