Merangkai Wajah Ekonomi Indonesia dari Pintu ke Pintu

Henny Susilowati saat melakukan pendataan kepada warga, Sri Rahayu
Sumber :
  • VIVA Jogja/Stefy Thenu

VIVA Jogja - Minggu pagi, 19 Juli 2026. Matahari mulai meninggi ketika Gang Pucang Argo Tengah VI di kawasan Perumnas Pucanggading, Desa Batursari, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, perlahan dipenuhi aktivitas khas akhir pekan. Anak-anak berlari mengejar teman sebayanya di lorong sempit. Pedagang sayur berkeliling menawarkan dagangan.

img_title Kulonprogo Mantapkan Arah Pembangunan, Ekonomi Tumbuh dan Infrastruktur Diperkuat

Dari beberapa teras rumah, tercium aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan obrolan ringan para penghuni. Di tengah suasana yang tampak biasa itu, seorang perempuan berjalan pelan menyusuri gang sambil sesekali melihat layar telepon genggam di tangannya. Di pundaknya tergantung sebuah tas kerja sederhana. Sesampainya di sebuah rumah, ia berhenti, memastikan nomor alamat, lalu mengetuk pintu dengan sopan.

"Permisi, Pak... saya dari Sensus Ekonomi 2026."

img_title Pariwisata Dorong Stabilitas Ekonomi, Inflasi Yogyakarta Juli 2026 Tetap Terkendali

Henny Susilowati, perempuan berusia 49 tahun itu adalah Petugas Pencacah Lapangan (PPL) Badan Pusat Statistik (BPS) untuk Sensus Ekonomi 2026. Setiap hari ia menyusuri gang demi gang, mengetuk pintu demi pintu, memastikan tidak ada satu pun bangunan yang luput dari pendataan.

Bukan hanya rumah yang memiliki usaha. Rumah tangga yang tidak menjalankan aktivitas ekonomi tetap didata. Bahkan bangunan kosong pun harus diverifikasi dan diberi stiker sebagai penanda telah diperiksa. Dia mulai bekerja sejak 15 Juni dan selesai pada 31 Agustus 2026.

img_title Konsultan Pajak Jadi Sorotan di Tengah Laju Ekonomi Sleman

"Bagi kami, semua harus didatangi. Tidak boleh ada yang terlewat di wilayah kerja," ujar Henny, kepada VIVA Jogja.

Henny berfoto selfie dengan Supriyanto, warga Pucang Argo, Mranggen, Demak

Photo :
  • VIVA Jogja/Stefy Thenu

Di balik tugas administratif itu, sesungguhnya ia sedang merangkai potongan-potongan kisah tentang kehidupan masyarakat Indonesia. Jika dulu petugas sensus membawa map tebal berisi formulir, kini "kantor" Henny cukup berada di dalam sebuah telepon genggam. Seluruh daftar pertanyaan tersimpan dalam aplikasi Fasih, sistem digital yang digunakan BPS untuk mencatat jawaban responden secara langsung.

Prosesnya tampak sederhana. Memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan kedatangan, mewawancarai warga, mengisi data, memotret bangunan, lalu berpamitan. Namun di balik rutinitas itu tersimpan tanggung jawab besar. Menurut Henny, setiap jawaban yang diberikan masyarakat akan menjadi bagian penting dalam menyusun kebijakan pembangunan nasional.

"Sensus Ekonomi menjadi dasar pemerintah dalam menyusun kebijakan agar tepat sasaran. Bagi pelaku usaha sendiri, data ini juga bisa menggambarkan kondisi pasar dan peluang usaha," katanya.

Halaman Selanjutnya
img_title