UGM Dorong Pertanian Regeneratif Lewat Smart Eco Bioproduction
- Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja – Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) terus mengembangkan konsep Smart Eco Bioproduction, sebuah pendekatan pertanian pintar yang memadukan sensor, kecerdasan buatan, robotika, dan teknologi digital dengan prinsip biologis serta ekologis. Konsep ini diarahkan menuju model pertanian regeneratif yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada keberlanjutan ekosistem dan kehidupan bumi.
Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof Dr Jaka Widada, menjelaskan bahwa gagasan Smart Eco Bioproduction telah dirancang sejak 2017 dan selama lima tahun terakhir diimplementasikan dalam kurikulum, riset, pengabdian masyarakat, serta pembangunan ekosistem pendukung. “Gagasan tersebut terus berkembang melalui proses pembelajaran, penelitian, inovasi, dan implementasi,” ujarnya. Menurutnya, tantangan pertanian nasional dan global yang semakin kompleks menuntut integrasi berbagai disiplin ilmu untuk mempercepat transisi menuju pertanian regeneratif berbasis holobiont.
Dalam kurikulum, paradigma baru ini diterjemahkan ke dalam pembelajaran integratif yang memperkenalkan mahasiswa pada pendekatan sistem, biologi, ekologi, teknologi digital, mikrobioma, dan pertanian regeneratif. Sementara itu, riset diarahkan pada persoalan lintas disiplin, seperti kesehatan tanah, interaksi tanaman–mikroba, digital phenotyping, multi-omics, kecerdasan buatan, hingga sistem produksi regeneratif. Pada bidang pengabdian masyarakat, konsep ini diwujudkan melalui pendampingan petani, penerapan teknologi tepat guna, penguatan kapasitas, serta pengembangan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Prof Jaka menegaskan bahwa Fakultas Pertanian UGM ingin menjadi bagian dari gerakan membangun pertanian bukan hanya sebagai sektor produksi, tetapi sebagai sistem kehidupan yang mampu meregenerasi dirinya sendiri. “Pertanian yang baik bukan hanya memberi makan manusia, tetapi juga memberi kehidupan kepada bumi beserta isinya,” katanya.
Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama, Prof. Dr. Subejo, menambahkan bahwa salah satu tantangan terbesar dunia akademik adalah kecenderungan ilmu berkembang dalam batas disiplin yang kaku. Menurutnya, persoalan pertanian tidak bisa diselesaikan secara terpisah. “Faperta UGM ingin bergerak from disciplines to systems. Dari ilmu yang terpisah menuju ekosistem pengetahuan, dari penelitian individual menuju inovasi kolaboratif, dari laboratorium menuju lapangan, dan dari publikasi menuju manfaat nyata,” jelasnya.