Kolaborasi Global Jadi Kunci Hadapi Ancaman Krisis Pangan 2050
- Dok Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja – Dunia tengah dihadapkan pada proyeksi krisis ketahanan pangan yang diperkirakan terjadi pada tahun 2050, ketika populasi global mencapai 9,7 miliar jiwa. Tantangan besar ini menuntut peningkatan produksi pangan hingga 70 persen tanpa memperluas lahan pertanian, demi menjaga keanekaragaman hayati dan keberlanjutan lingkungan.
Isu tersebut mengemuka dalam Research Talk bertajuk Improving Food Security through Sustainable Agriculture and Global Partnerships, yang menjadi bagian dari peluncuran Double Degree Program Master in Agro-Industrial Technology UGM and Master of Agricultural Sciences di Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM. Diskusi ini menekankan pentingnya kolaborasi riset lintas negara untuk menjawab tantangan pangan masa depan.
Dekan FTP UGM, Prof Dr Ir Eni Harmayani, menegaskan bahwa kerja sama antara UGM dan Universitas Melbourne melalui program double degree bukan hanya memberikan kesempatan mahasiswa belajar di dua kampus, tetapi juga mencerminkan komitmen bersama dalam mengembangkan talenta berwawasan global. “Kolaborasi ini mempertemukan kekuatan dan keunggulan yang kita miliki, memperluas wawasan akademik, serta membangun wadah bagi mahasiswa dan akademisi untuk belajar, berkolaborasi, dan berinovasi lintas batas,” ujarnya.
Associate Professor Dorin Gupta dari University of Melbourne menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun masa depan yang lebih baik melalui kerja sama lintas negara. Ia menyoroti sejarah panjang hubungan Australia dan Indonesia dalam bidang pertanian, yang kini semakin relevan untuk menciptakan sistem pangan berkelanjutan. “Kami berharap dapat terus mengembangkan sistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan di masa depan,” katanya.
Gupta menekankan pentingnya pendekatan inovasi berbasis co-design bersama petani, agar solusi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan lapangan. Kolaborasi internasional, menurutnya, dapat memberikan dampak luas, mulai dari peningkatan kualitas penyimpanan pascapanen, keamanan pangan, nilai tambah produk, hingga pengelolaan air dan kesehatan tanah yang lebih cerdas.
Dalam sesi berikutnya, Dr. Antanas Spokevicius dari University of Melbourne menyoroti kebutuhan material bangunan berbahan kayu yang terus meningkat. Ia mendorong pengembangan hutan tanaman melalui pemuliaan molekuler genetik dan kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini memungkinkan identifikasi sifat unggul kayu sejak dini, sehingga mempercepat siklus produksi. Ia mencontohkan keberhasilan proyek kehutanan masyarakat adat di Kepulauan Tiwi, Australia, yang menggunakan pemetaan DNA pada spesies Eucalyptus tropis. Hasilnya, benih unggul dengan pertumbuhan cepat mampu mencapai 2,5 meter hanya dalam beberapa bulan. Terobosan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan papan ramah energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi mandiri bagi masyarakat adat dan menjadi model produksi kayu tropis secara global.