Ternyata, Ikan juga Perlu Vaksin
- bing image creator
VIVA Jogja - Budidaya perikanan di Indonesia masih membutuhkan berbagai treatmen termasuk pemberian vaksin sebagai langkah strategis dalam menjaga kesehatan produksi ikan. Meski pengembangan vaksin telah dimulai sejak dekade 1990-an dan terus berkembang melalui kolaborasi dengan lembaga riset maupun industri.
Namun, pemanfaatannya belum maksimal di lapangan disebabkan oleh rendahnya permintaan dan minimnya insentif bagi produsen. “Permintaan vaksin di Indonesia masih rendah, padahal vaksin berbasis riset telah tersedia, baik yang dikembangkan UGM maupun institusi lain. Tantangan utamanya adalah distribusi, regulasi, dan belum adanya dukungan kebijakan yang konsisten,” ujar Ketua Departemen Perikanan UGM, Prof Alim Isnansetyo dalam workshop bertajuk Fish Vaccine Strategies for Sustainable Aquaculture, di Fakultas Pertanian UGM.
Menurut Alim, salah satu tantangan implementasi vaksin di Indonesia juga berkaitan dengan aspek teknis dan geografis. Belum lagi, morfologi ikan lokal seperti lele dan nila yang berbeda dengan salmon, sehingga memerlukan modifikasi alat vaksinasi dan metode penerapan. Ia juga menyebut distribusi vaksin ke daerah terpencil sebagai hambatan utama yang masih harus diatasi. Untuk itu, ia mendorong keberlanjutan riset yang relevan dengan kebutuhan domestik serta adanya kebijakan pemerintah yang berpihak pada percepatan industrialisasi vaksin ikan.
“Mesin vaksin otomatis yang cocok untuk salmon di negara maju belum tentu cocok untuk spesies seperti lele atau nila yang umum di Indonesia. Adaptasi teknologi lokal mutlak diperlukan,” tegasnya.
Sementara Prof. Dini Siswani Mulia dari Universitas Muhammadiyah Purworejo menjelaskan urgensi vaksinasi dalam menekan angka kematian ikan akibat infeksi bakteri. Ia menyoroti bakteri Aeromonas spp. sebagai salah satu patogen utama yang mengganggu keberhasilan budidaya, terutama pada ikan air tawar seperti lele. Dini juga memaparkan pentingnya pengembangan vaksin berbasis isolat lokal untuk efektivitas yang lebih tinggi. “Vaksin terbukti mampu menurunkan tingkat kematian hingga 70–90 persen dan mengurangi penggunaan antibiotik hingga 60 persen. Ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan budidaya dan mencegah resistensi antimikroba,” jelasnya.
Selanjutnya, Prof Dr Ina Salwany dari Universiti Putra Malaysia, berbagi pengalaman riset vaksinasi ikan laut di Malaysia. Ina aktif melakukan penelitian terkait vaksinasi ikan komersial dan pengembangan metode aplikasi vaksin yang sesuai dengan kondisi tropis. Ia menyampaikan pentingnya pelibatan pelajar dan industri dalam upaya penguatan vaksinasi perikanan lintas kawasan. “Workshop ini sangat bermanfaat. Kami dapat berbagi pengalaman mengenai tantangan vaksinasi ikan laut, termasuk dari sisi riset, penerapan, dan kolaborasi lintas institusi. Harapannya kegiatan ini bisa terus berlanjut dan mendorong lebih banyak sinergi antara Indonesia, Malaysia, dan Inggris,” ujarnya.