META dan Atma Jaya Yogya Resmi Luncurkan Program Youth Development for Climate Tech
- jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani
Program ini, lanjutnya, bukan sekadar pelatihan, tetapi investasi jangka panjang untuk menyelamatkan bumi, dan lebih spesifik lagi untuk menyelamatkan Kulonprogo. “Saya sungguh berharap, para peserta yang mengikuti program ini bisa ikut melihat Kulonprogo bukan hanya sebagai tempat magang atau riset, tetapi sebagai ladang kontribusi, tempat kalian bisa menanam kebaikan, dan mudah-mudahan bisa tumbuh jadi perubahan besar,” harapnya.
Paralel di Singapura dan India
Program Meta YDCT merupakan hasil kolaborasi antara Meta Platforms Inc. dan Sustainable Living Lab (SL2) yang bertujuan membekali generasi muda dengan keterampilan Kecerdasan Artifisial (AI), keberlanjutan, dan pemahaman tentang tantangan perubahan iklim.
Sebagai bagian dari inisiatif lintas negara, program Meta YDCT juga dilaksanakan secara paralel di Singapura dan India. Program ini dirancang untuk menciptakan ruang kolaborasi antarnegara bagi generasi muda, agar mereka tidak hanya memahami tantangan iklim dari sudut pandang lokal, tetapi juga mampu menciptakan solusi kolektif yang lebih kontekstual secara global. Dalam menghadapi krisis iklim yang bersifat global, pendekatan kolaboratif adalah sebuah kunci.
Pada tahap awal ini, mahasiswa akan mengikuti pelatihan dasar, yang mencakup pengenalan Generative AI (GenAI), eksplorasi tantangan iklim lokal, dan praktik membangun solusi AI. Mahasiswa akan didampingi sepanjang proses program, mulai dari pembentukan ide hingga pengembangan purwarupa solusi berbasis AI yang menargetkan isu-isu seperti banjir, gelombang panas ekstrem, dan polusi udara.
Pelatihan ini difasilitasi oleh 9 (sembilan) dosen UAJY yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan khusus sebagai trainer Meta YDCT. Kesembilan dosen yang menjadi trainer YDCT antara lain Dr Benyamin Langgu Sinaga, Dr. Theresia Devi Indriasari, Martinus Maslim, Fedelis Brian Putra Prakasa, Aloysius Gonzaga Pradnya, Vinindita Citrayasa, Dr Yohanes Sigit Purnomo Wuryo Putro, Kusworo Anindito, dan Joanna Ardhyanti Mita N.
Setelah menyelesaikan pelatihan dasar, perserta akan memasuki tahap pertukaran virtual pada September 2025. Dalam tahap ini, mereka akan berinteraksi dan berkolaborasi dengan mahasiswa peserta YDCT dari Singapura dan India. Peserta akan diperkenalkan dengan berbagai problem statement yang mencerminkan tantangan iklim dari masing-masing negara dan diajak berdialog dengan pemangku kepentingan seperti pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil lokal. Hal ini bertujuan agar mahasiswa mampu memahami konteks permasalahan secara lebih utuh dan merancang solusi yang relevan.