Jorong Tabek, Dari Kampung Termiskin Menjadi Laboratorium Harapan

Komunitas ekonomi Jorong Tabek
Sumber :
  • Istimewa

VIVA Jogja – Dua belas tahun yang lalu atau di tahun 2013, sebuah dusun di kaki perbukitan Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, masuk dalam daftar daerah termiskin di Sumatra Barat.

img_title Dosen UGM dan Warga Sangurejo Ubah Kampung Kumuh Jadi ProKlim Lestari

Infrastruktur serba terbatas, akses pendidikan dan kesehatan yang minim, meski memiliki potensi alam yang indah dan asri. Sebagian besar kawasan hunian masyarakat Jorong Tabek, dipenuhi pelukar yang kadang sulit ditembus dan hampir tak ada ruang ekspresi masyarakat.

Lambat laun, justru melejit dan menjelma menjadi kampung percontohan, berkat semangat gotong royong dan dukungan dari program Kampung Berseri Astra (KBA) yang dimulai tahun 2013. Warga Jorong Tabek membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari akar rumput dan komunitas warga.

img_title UGM Diganjar Apresiasi atas Pendampingan Koperasi Berbasis Keilmuan

Program Kampung Berseri Astra (KBA) resmi dimulai pada tahun 2013 oleh Grup Astra sebagai bagian dari komitmen terhadap kontribusi sosial berkelanjutan. Sejak saat itu, KBA telah berkembang pesat dan kini mencakup puluhan kampung di berbagai provinsi di Indonesia, masing-masing mengusung empat pilar utama yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Rumah Pintar

img_title Dari Galon Bekas ke Prestasi: Kisah Eti Martini dan Ketahanan Pangan Palihan

Terletak di kaki perbukitan Talang Babungo, sebuah rumah panggung atau Rumah Gadang sederhana berukuran 4x20 meter berdiri kokoh dan menjadi sumber semangat kebangkitan warga Jorong Tabek. Rumah Gadang itu menjadi jantung dari perubahan, tempat inkubasi ide dan gagasan warga, untuk menatap masa depan.

Rumah Pintar Kampung Berseri Astra (KBA) bukan sekedar ruang belajar, tetapi berevolusi menjadi laboratorium ekonomi sirkular yang menghidupkan kembali semangat gotong royong dan kemandirian ekonomi masyarakat.

Didirikan pada 2019 melalui gotong royong, Rumah Pintar kini menjadi ikon desa wisata budaya-edukasi, perpustakaan budaya, ruang diskusi ekonomi kerakyatan, dan laboratorium gagasan yang mempertemukan 90 penggiat ekonomi lokal.

Rumah ini juga menjadi pusat informasi bagi 45 homestay yang siap menyambut wisatawan domestik. Di sinilah wisatawan tak hanya menginap, tetapi juga belajar tentang ekonomi sirkular, budaya lokal, dan semangat kolaborasi yang mengakar kuat.

Apa saja sesungguhnya yang dilakukan hingga warga Jorong Tabek mampu menghimpun kekuatan ekonomi secara mandiri itu. Pertama adalah memproduksi Gula Semut ke Maggot yang sumber-dayanya memang ada di sekitar.

Halaman Selanjutnya
img_title