Briket Tempurung Kelapa Mahasiswa UMY Menembus Pasar Eropa
- Humas UMY
BANTUL, VIVA Jogja - Limbah tempurung kelapa yang selama ini kerap dianggap tak bernilai, kini menjelma menjadi komoditas berharga di pasar internasional berkat tangan kreatif mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Muhammad Aryo Lambang, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan angkatan 2023, bersama timnya berhasil mengembangkan briket ramah lingkungan yang diminati hingga ke Eropa dan Asia.
Inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap melimpahnya limbah biomassa di Indonesia. Tempurung kelapa, yang mengandung karbon tinggi sekitar 60–70 persen, diolah menjadi arang, kemudian dicampur dengan tepung kanji sebagai perekat, sebelum dicetak menjadi briket siap pakai. Hasilnya adalah bahan bakar alternatif yang mampu menghasilkan panas stabil dengan daya bakar dua hingga tiga jam, sekaligus lebih ramah lingkungan dibanding energi konvensional.
“Di luar negeri, khususnya Eropa, batok kelapa justru dicari karena dianggap sebagai sumber energi hijau. Sementara di Indonesia, pemanfaatannya masih terbatas,” ujar Aryo saat ditemui di kampus UMY, Kamis (15/01/2026).
Produk ini kini telah menembus pasar Prancis, Portugal, dan Belanda, serta merambah Asia, termasuk Jepang, Korea, dan kawasan Asia Tenggara. Tingginya permintaan tak lepas dari meningkatnya kesadaran global terhadap energi bersih dan berkelanjutan. Aryo menilai peluang pasar di luar negeri jauh lebih besar dibanding di dalam negeri, di mana penggunaan briket masih terbatas pada sektor kuliner.
Lebih dari sekadar usaha, inovasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Ilmu Pemerintahan tidak hanya berkutat pada kajian politik dan birokrasi. “Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Ilmu Pemerintahan bisa berpikir strategis, membaca peluang pasar, dan menciptakan produk yang berdampak secara ekonomi maupun lingkungan,” tegasnya.
Melalui briket tempurung kelapa, mahasiswa UMY tidak hanya membangun usaha mandiri, tetapi juga ikut mendorong penguatan ekonomi hijau dan agenda keberlanjutan global. Semangat sociopreneurship yang mereka usung menegaskan bahwa nilai sosial dan lingkungan dapat berjalan seiring dengan inovasi bisnis.